Rabu, 09 November 2016

PSIKOLOGI SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial kita selalu berhubungan dengan orang lain. Dalam menjalani hubungan tersebut, selalu saja kita ingin tahu tentang apa saja yang dikerjakan oleh orang lain. Keingintahuan ini tidak hanya kepada orang-orang terdekat kita saja tetapi juga meliputi mereka yang ada di sekitar kita atau juga orang-orang terkenal, juga mereka-mereka yang memiliki keistimewaan yang berbeda dengan kita. Rasa ingin tahu adalah bagian dari hidup dimana kita semua merasakan.
Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia adalah psikologi sosial. Akan tetapi, sebelum psikologi sosial muncul, ilmu khusus yang memperlajari tingkah laku manusia dalam lingkungan sosialnya adalah antropologi dan sosiologi. Psikologi sosial sendiri baru muncul sekitar seratus tahun yang lalu (Mc. Dougall, 1908; Ross, 1908).
Adapun psikologi sosial lebih menekankan pada tingkah laku manusia sebagai individu. Sebagai ilmu yang relatif baru dalam perkembangannya banyak menggunakan materi-materi yang sudah ada dalam disiplin ilmu sosiologi dan antropologi. Karena itu, peranan antropologi dan sosiologi dalam psikologi sosial antara lain adalah untuk mengurangi atau setidak-tidaknya menjelaskan penyimpangan yang terdapat dalam penelitian psikologi sosial sebagai akibat pengaruh kebudayaan dan kondisi masyarakat disekitar manusia yang diteliti.
Sasaran penelitian psikologi sosial sendiri adalah tingkah laku manusia sebagai individu. Inilah yang membedakan psikologi sosial dari antropologi dan sosiologi yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai bagian dari masyarakatnya. Fokus kajian psikologi sosial lebih bertitik tolak pada manusia sebagai individu yang membina hubungan-hubungan sosial di masyarakat, misalnya persepsi, motivasi dan sikap, dan berusaha memahami proses-proses yang mempengaruhi kelangsungan dan keseragaman jenis maupun bentuk hubungan sosial seperti kepemimpinan, kerja sama, dan konflik.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek studi dalam psikologi sosial lebih menitik beratkan pada semua kondisi psikologis individu dalam masyarakat, dalam hal ini berusaha melihat hubungan yang ada antara berbagai kondisi sosial dengan kondisi psikologis individu dalam masyarakat. Kondisi sosial adalah semua aspek yang ada dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi individu. Dalam kehidupan sehari-hari individu akan selalu berhubungan dengan orang lain yang dikenal sebagai interaksi sosial yang merupakan proses saling mempengaruhi.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa itu psikologi sosial?
2.      Bagaimana sejarah dari psikologi sosial?
3.      Apa yang menjadi ruang lingkup psikologi sosial?
4.      Apa tujuan dari psikologi sosial?
5.      Bagaimana pendekatan dalam psikologi sosial?

1.3  Tujuan Pembahasan
1.      Menjelaskan pengertian psikologi sosial
2.      Menjelaskan bagaimana sejarah psikologi sosial
3.      Menjelaskan ruang lingkup psikologi sosial
4.      Menjelaskan tujuan psikologi sosial
5.      Menjelaskan pendekatan dalam psikologi sosial



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial merupakan usaha sistematik untuk mempelajari perilaku sosial (social behavior). Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana kita bereaksi terhadap orang lain dan bagaimana mereka bereaksi terhadap kita, dan secara umum bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial. (Sears, 1985).
Sama halnya dengan pengertian psikologi pada umumnya (psikologi umum) yang didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungannya (Sarwono, 1991), psikologi sosial pun, sebagai salah satu cabang psikologi, mempelajari perilaku manusia, khususnya dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnnya. Dengan mempelajari perilaku sosial, diharapkan dapat diterangkan mengapa seseorang berperilaku secara tertentu dalam situasi sosial tertentu, jika perilaku tertentu itu akan terjadi dan bagaimana (jika mungkin) mengubah atau mempengaruhi perilaku itu sehingga dapat lebih sesuai dengan yang diharapkan. Jadi, psikologi sosial, selain merupakan ilmu teoritik (sebagaimana ilmu pada umumnya), juga merupakan ilmu terapan (Sarwono, 1997)
 Untuk memahami lebih lanjut mengenai psikologi sosial, maka berikut ini akan dikemukakan berbagai definisi tentang psikologi sosial sebagaimana yang ditulis oleh para peneliti dalam berbagai buku tentang psikologi sosial (Sarwono, 1997)
a.)    Sherif & Muzfer, 1956
Psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial.
b.)    Krech, Cructhfield & Ballachey (1962)
Psikologi sosial adalah ilmu tentang peristiwa perilaku hubungan interpersonal (antarpribadi)
c.)    Watson, 1966
Psikologi sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia
d.)   Dewey & Huber, 1966
Psikologi sosial adalah studi tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik, dengan lingkungannya.
e.)    Jones & Gerrard, 1967
Psikologi sosial adalah subdisiplin dari psikologi yang mengkhususkan diri pada studi ilmiah tentang perilaku individual sebagai fungsi rangsangan (stimulus) sosial.
f.)     McDavid & Harari, 1968
Psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang pengalaman dan perilaku individual dalam kaitan dengan individu lain, kelompok, dan kebudayaan.
g.)    Shaw & Costanzo, 1970
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi rangsang-rangsang sosial.
h.)    Baron & Byrne, 1994
Psikologi sosial adalah bidang ilmiah yang mencari pengertian tentang hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan pikiran-pikiran individu dalam situasi sosial.
Berdasarkan pengertian dari para ahli tentang psikologi sosial diatas, maka ada dua istilah yang digunakan para ahli untuk menggambarkan Psikologi sosial, yakni “ilmu pengetahuan” dan “individu”. Ilmu pengetahuan yang dimaksud disini adalah menjelaskan bahwa psikologi sosial mempelajari suatu gejala dalam kondisi yang terkontrol. Spekulasi-spekulasi yang hanya didasarkan pada perkiraan-perkiraan saja tidak berlaku untuk menyusun hukum-hukum maupun teori-teori psikologi sosial. Sedangkan penggunaan istilah individu dalam definisi di atas menunjukkan bahwa unit analisa dari psikologi lebih dititik beratkan pada individu, bukan pada masyarakat secara keseluruhan ataupun kebudayaan dari masyarakat tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan rangsangan-rangsangan sosial yang ada di sekitar individu, termasuk dalam karya-karya manusia ini antara lain adalah norma-norma, kelompok sosial dan produk-produk sosial lainnya.
Pendapat para tokoh tentang pengertian psikologi sosial memang sangat beragam. Namun demikian tidaklah berarti antara yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan. Perpaduan diantara pendapat tersebut akan dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Rangkuman pengertian dari berbagai pendapat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: “Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.” Dengan demikian membicarakan psikologi sosial tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan individu yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial.


2.2  Sejarah Singkat Psikologi Sosial
Disiplin psikologi sosial yang belum tertata secara mapan sebagai ilmu empiris tersendiri seperti sekarang ini sudah ada sejak zaman Yunani klasik sebagai bagian dari kajian disiplin ilmu filsafat. Tokoh-tokoh filsafat Yunani klasik yang dapat dikategorikan sebagai pemikir metafisika rasional psikologi sosial adalah Plato dan Aristotles. Perkembangan lanjutan psikologi sosial dapat ditemui pada pemikir filsuf Prancis dan bapak ilmu sosiologi Auguste Comte yang hidup pada abad kesembilan belas Masehi (Cooper, 1996). Auguste Comte juga dapat dipandang sebagai salah satu peletak dasar perkembangan psikologi sosial empiris yang lahir pada abad kedua puluh Masehi.
Sebagai ilmu empiris yang berdiri sendiri, kelahiran psikologi sosial ditandai dengan dipublikasikannya dua buku psikologi sosial yaitu Introduction to Social Psychology (Pengantar Psikologi Sosial) yang ditulis oleh pakar ilmu psikologi William McDougall pada tahun 1908 dan Social Psychology (Psikologi Sosial) yang ditulis oleh pakar ilmu sosiologi A. Ross pada tahun yang sama (Stephan dan Stephan, 1990). Selain itu, pada tahun 1924, Floyd Allport (dalam Baron dan Byrne, 2004) menulis sebuah buku yang berjudul Social Psychology. Dalam buku ini Floyd Allport memberikan deskripsi tentang topik-topik penelitian yang berhubungan dengan perilaku sosial, yaitu topik konformitas sosial, topik kemampuan individu dalam memahami emosi orang lain, dan topik pengaruh audiens terhadap kinerja penyelesaian tugas.
Pada saat terjadi Perang Dunia II banyak para ahli psikologi di Amerika Serikat dan Eropa termasuk ahli psikologi sosial yang terlibat dalam perang dan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan psikologi mereka untuk upaya-upaya memenangkan perang. Setelah mengalami kemandekan yang cukup signifikan akibat terjadinya Perang Dunia II, perkembangan psikologi sosial menunjukkan perkembangan lebih lanjut pada periode pertengahan 1940-an yang ditunjukkan mulai dilakukan penelitian terhadap pengaruh kelompok pada perilaku individu, hubungan ciri-ciri kepribadian, perilaku sosial, pengembangan teori disonansi kognitif oleh Leon Festinger tahun 1957.
Setelah Perang Dunia berakhir, seorang pakar psikologi sosial yang jenius, Kurt Levin mempelopori pengembangan psikologi sosial ke arah bidang-bidang yang lebih terapan (Hanurawan dan Diponegoro, 2005). Berdasarkan ide Kurt Lewin untuk mengembangkan psikologi sosial ke arah yang lebih bermanfaat secara langsung bagi kesejahteraan manusia, maka kemudian didirikan organisasi yang disebut dengan Society for the Psychological Study of Social Issues (Masyarakat untuk Studi Psikologis tentang Isu-isu Sosial) (Sadava, 1997).
Pada periode 1960-an, para pakar psikologi sosial mulai mengarah perhatiannya pada topik persepsi sosial, agresi, kemenarikan dan cinta, pengambilan keputusan dalam kelompok, dan membantu orang lain yang membutuhkan. Pada periode 1970-an pakar psikologi sosial mengembangkan topik-topik baru berhubungan dengan perilaku diskriminasi jenis kelamin, proses atribusi, dan perilaku lingkungan. Pada periode 1990-an para pakar psikologi sosial mulai mengembangkan secara lebih nyata aspek terapan teori-teori psikologi sosial seperti bidang kesehatan, bidang media, proses hukum dan perilaku organisasi.

2.3  Ruang Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi Sosial yang menjadi objek studinya adalah segala tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau lingkungan sosialnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari adalah pengaruh sosial atau perangsang sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial inilah yang mempengaruhi tinghkah laku individu. Berdasarkan inilah psikologi sosial membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial.
Objek pembahasan dari psikologi sosial tidaklah berbeda dengan psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena psikologi sosial adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka psikologi sosial adalah kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum adalah gejala-gejala jiwa seprerti perasaan, kemauan, dan berfikir yang terlepas dari alam sekitar. Sedangkan dalam psikologi sosial masalah yang dikupas adalah manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan individu dengan individu yang lain dalam kelompoknya, hubungan persahabatan, juga tentang ketertarikan, cinta, hubungan dengan media sosial dan lain sebagainya.
Psikologi sosial dalam membicarakan objek pembahasannya dapat pula bersamaan dengana sosiologi. Masalah-masalah sosial yang dibicarakan dalam sosiologi adalah kelompok-kelompok manusia dalam satu kesatuan seperti macam-macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan macam-macam kepemimpinannya. Sedangakan dalam psikologi sosial adalah meninjau hubungan individu yang satu dengan yang lainnya seperti bagaimana pengaruh terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota, dan pengaruh terhadap kelompok lainnya.
Persamaaaan-persamaan pembahasan sebagaimana penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pembahasan psikologi sosial berada pada ruang antara psikologi dan sosiologi. Titik persinggungan inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan memunculkan ilmu baru dalam lapanagn psikologi, yakni psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari tingkah laku manusia atau kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosialnya. (Ahmadi, 2002).
Shaw & Costanzo membagi ruang lingkup Psikologi Sosial dalam 3 wilayah studi, yaitu:
1.      Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya: studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat).
2.      Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru, dan lainnya.
3.      Studi tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, dan konflik.
Psikologi yang dipelajari secara praktis dapat dipraktekan dalam bermacam-macam bidang, misalnya dalam bidang pendidikan, dalam bidang indrusti atau perusahaan dan sebagainya. Psikologi yang berusaha mempelajari jiwa manusia, ternyata banyak mendapat kesulitan, hal ini dikarenakan objek penyelidikannya yang abstrak, yang tidak dapat diselidiki secara langsung, tetapi diselidiki keaktifannya yang terlibat melalui manifestasi tingkah laku atau perbuatan. Dapat dimisalkan ketika kita mempelajari tentang angin, objeknya sendiri secara langsung tidak dapat dilihat, namun dari keaktifannya, bila ada daun yang bergerak atau debu beterbangan, maka jelas angin itu ada, seperti itu pulalah bila kita mempelajari jiwa. Jadi dalam mempelajari psikologi ini, kita akan membatasi diri pada tingkah laku manusia.
2.4  Tujuan Psikologi Sosial
Sama halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran psikologi sosial bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan Pendidikan Nasional pada tataran operasional dijabarkan dalam tujuan institusioanl tiap jenis dan jenjang pendidikan. Selanjutnya pencapaian tujuan institusional ini, secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran. Akhirnya tujuan kurikuler ini, secara praktis operasional dijabarkan dalam tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran. Tujuan kurikuler psikologi sosial yang harus dicapai sekurang-kurangnya meliputi lima tujuan yaitu sebagai berikut:
1.      Membekali peserta didik dengan pengetahuan psikologi sosial sehingga tidak terpengaruh atau tersugesti oleh situasi sosial yang tidak selamanya bernilai baik.
2.      Membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara tetap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupan bersama.
3.      Membekali peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat sehingga memudahkan dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengarahan kepada tujuan dengan sebaik-baiknya.
4.      Membekali peserta didik dengan kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap sosialnya.
5.      Membekali peserta didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan ilmu psikologi sosial sesuai dengan perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat, perkembanagn ilmu, dan perkembangan teknologi.

2.5  Pendekatan Psikologi Sosial
Psikologi sosial berusaha memahami: masalah pembentukan kesan, konformitas, perubahan sikap, agresi, kepatuhan, dan perilaku menolong. Pada umumnya, psikologi sosial mulai dengan pembahasan seseorang mempresepsi orang lain, bagaimana dia mengartikan perilaku orang lain, serta bagaimana ia membentuk dan mengubah sikapnya. Psikologi sosial berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku dalam kelompok dan bagaimana kelompok mempengaruhi anggotanya.
Sebenarnya ada banyak bidang lain yang berkaitan dengan masalah ini. Para ahli sosiologi, geografi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan ahli psikologi lain memiliki kaitan dengan perilaku sosial. Tapi tetap saja ada perbedaan dari pendekatan psikologi sosial dengan ilmu yang lain. Ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan analisis kemasyarakatan ­– mereka mempergunakan faktor-faktor kemasyarakatan secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Orang melakukan perilaku tertentu karena adanya faktor ekonomis, historis, atau kekuatan sosial seperti konflik antarkelas, pertentangan antarkelompok etnis yang saling bersaing, hasil penen suatu daerah, institusi pemerintahan, atau perubahan teknologi dalam bidang ekonomi. Ahli psikologi klinis dan kepribadian mempergunakan analisis individual – mereka mempergunakan karakteristik individu yang unik untuk menjelaskan perilaku. Secara khusus mereka mempergunakan konflik dan ciri kepribadian seseorang yang unik untuk menjelaskan mengapa orang itu berperilaku yang agak berbeda dalam setiap situasi. Ahli psikologi sosial mempergunakan tingkat analisis yang terletak di antara kedua kutub tersebut yang disebut interpersonal. Mereka menjelaskan perilaku berdasarkan situasi interpersonal atau sosial yang terjadi. Situasi sosial itu dapat meliputi orang lain di lingkungan, sifat dan perilaku mereka, keadaan di mana perilaku itu terjadi dan sebagainya.
Psikologi sosial lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi. Psikologi sosial mempelajari perasaan subjektif yang biasanya muncul dalam situasi sosial tertentu dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku. Pendekatan psikologi sosial biasanya juga menyangkut perasaan-perasaan subjektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang kemudian mempengaruhi perilaku individu. Contohnya perasaan frustasi seseorang yang menimbulkan kemarahan, yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku agresif. (Sears, 1985).

a.      Pendekatan Biologis
Naluri
Ada yang berpendapat bahwa manusia memiliki naluri untuk menjadi agresif. Konard Lorenz dan juga ahli lain mengemukakan pendapat bahwa dorongan agresif ada di dalam diri manusia sejak lahir dan tidak dapat diubah. Dengan istilah yang agak berbeda, teori Psikoanalisis Freud juga menyatakan adanya dorongan bawaan yang mengarahkan manusia untuk melakukan perilaku yang bersifat merusak (meskipun Freud berpendapat bahwa dorongan bawaan itu dapat diarahkan pada perilaku yang bersifat tidak merusak). Pemikiran bahwa agresi bersifat naluriah tidak banyak membantu usaha memahami mengapa seseorang bertindak agresif sedangkan orang lain mungkin tidak akan bertindak seperti itu sekalipun memiliki situasi yang sama. Tetapi bagaimanapun juga pandangan ini merupakan salah satu cara memandang perilaku manusia.
Perbedaan Genetik
Pandangan kedua dalam pendekatan biologis memusatkan perhatiannya pada pemahaman tentang bagaimana perbedaan genetik menimbulkan perbedaan perilaku. Sebagian orang mungkin karena alasan-alasan genetik, lebih agresif daripada orang lain. Pandangan yang berkaitan dengan pendekatan biologis mempergunakan faktor-faktor fisiologis yang lain, seperti ketidakseimbangan hormonal atau kerusakan otak, untuk menjelaskan masalah agresivitas. Pemikiran yang umum adalah bahwa penyebab semua perilaku termasuk perilaku sosial dapat diketahui dari sifat biologis seseorang – dari susunan genetik, dari karakteristik bawaan, dari karakteristik fisik yang berkembang sejak lahir, atau dari pertumbuhan fisik sementara seperti yang disebabkan oleh produksi hormone atau perangsang otak. Sampai sekarang pendekatan ini memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap psikologi sosial. Para ahli psikologi sosial beranggapan hanya sedikit mekanisme perilaku bawaan atau naluriah yang ada di dalam diri manusia. Dan mekanisme yang ada itu nampaknya tidak memiliki pengaruh yang besar dibandingkan faktor-faktor sosial.

b.      Pendekatan Belajar
Selama beberapa tahun, pendekatan yang dominan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan belajar. Pokok pemikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang memperlajari perilaku tertentu sebagai kebiasaan, dan bila menghadapi situasi itu kembali, orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu. Misalnya, bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menjabatnya, karena itulah yang telah kita pelajari untuk menanggapi uluran tangan itu. Pendekatan dengan belajar menjadi populer di tahun 1920-an dan merupakan dasar Behaviorisme. Mula-mula Pavlov dan John B. Watson menjadi pendukungnya yang paling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F Skinner. Neal Miller dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan yang disebut Social Learning Theory.
Mekanisme Belajar
Ada tiga mekanisme umum yang terjadi dalam belajar. Yang pertama adalah asosiasi, atau classical conditioning. Anjing Pavlov belajar mengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi karena sebelumnya disajikan daging tiap saat terdengar bunyi bel. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan daging, karena anjing itu mengasosiasikan bel dengan daging. Mekanisme belajar yang kedua adalah reinforcement. Orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau karena mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang mahasiswa mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor di kelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah dan membentaknya kembali. Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu.
Ciri-ciri Khusus
Pendekatan belajar mempunyai tiga ciri khusus yang membedakannya dengan pokok pemikiran lain dalam psikologi sosial. Pertama, sebab-sebab perilaku diduga terletak terutama pada pengalaman belajar individu di masa lampau. Para ahli teori belajar mengaitkan diri pada pengalaman masa lalu dan kurang memperdulikan seluk beluk situasi yang sedang terjadi. Kedua, pendekatan belajar cenderung menempatkan penyebab perilaku terutama pada lingkungan eksternal dan tidak pada pengartian subjektif individu terhadap apa yang terjadi. Sebagai sebab-sebab terjadinya perilaku pendekatan belajar tidak menekankan keadaan subjektif seperti misalnya persepesi terhadap situasi atau emosi. Ketiga, biasanya pendekatan belajar diarahkan untuk menjelaskan perilaku yang nyata dan bukan keadaan subjektif atau psikologis.

c.       Pendekatan Insentif
Pendekatan umum yang ketiga memandang perilaku sebagai suatu insentif yang tersedia bagi bermacam-macam tindakan. Orang bertindak berdasarkan keuntungan dan kerugian yang mereka peroleh dari setiap perilaku. Analisa insentif benar-benar mempertimbangkan hal-hal yang mendukung dan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku tertentu dan berdasarkan hal itu meramalkan bagaimana seseorang akan berperilaku.

Teori-teori utama
Pada umumnya ada tiga versi teori insentif yang berbeda dalam psikologi sosial, yaitu:
1.      Pilihan rasional, atau rational decision making theory. Teori ini mengemukakan bahwa orang memperhitungkan kerugian dan keuntungan berbagai tindakan, serta secara rasional mengambil alternatif yang paling baik. Mereka memilih mana tindakan yang memberikan keuntungan sebesar mungkin dan kerugian sekecil mungkin.
2.      Teori pertukaran. Teori ini menganalisis interaksi interpersonal sebagai rangkaian keputusan rasional yang dibuat orang. Dalam hal ini perilaku seseorang terhadap orang lain dianggap berdasarkan pertimbangan untung-rugi setiap pihak, yang timbul dari berbagai kemungkina sebagai interaksi.
3.      Pemuasan kebutuhan. Teori ini menyatakan bahwa individu memiliki kebutuhan atau motif spesifik tertentu dan berperilaku sedemikian rupa untuk memuaskan kebutuhan itu.
Versi-versi teori insentif ini agak berbeda dalam mengungkapkan gambaran sifat manusia. Teori pilihan rasional dan teori pertukaran melukiskannya sebagai pemilih yang pemenuh perhitungan, cukup ilmiah. Sedangkan versi pemuasan kebutuhan menggambarkannya sebagai seorang impulsif yang terutama didorong oleh kekuatan internal. Tetapi ketiga versi ini terfokus pada situasi yang sama: seseorang diharapkan pada usaha memilih satu di antara beberapa alternative perilaku dan dia harus mengambil keputusan berdasarkan besarnya keuntungan dan kerugian yang akan dialami dalam setiap alternatif.
Bagaimanapun juga, semua versi analisa insentif ini memiliki satu hal penting yang membedakannya dengan pendekatan belajar. Versi-versi itu berkaitan dengan kerugian dan keuntungan dari kemungkinan tanggapan dalam situasi yang terjadi pada saat itu, bukan berupa kebiasaan yang dipelajari pada masa lalu. Oleh sebab itu, sebab-sebab perilaku terletak pada situasi sekitar yang terjadi saat itu. Selain itu, analisis intensif lebih banyak berkaitan dengan keadaan insentif dan tidak hanya terhadap lingkungan eksternal. Presepsi kita terhadap situasi, perasaan positif atau negative kita terhadap sesuatu itu, ekspresi kita tentang akibat setiap alternative tindakan, harapan dan ketakuan kita, merupakan hal-hal pokok dalam analisis insentif.
d.      Pendekatan Kognitif
Pokok pikiran utama pendekatan kognitif dalam psikologi sosial adalah perilaku seseorang tergantung pada caranya mengamati situasi sosial. Secara spontan dan otomatis orang mengorganisasikan persepsi, pikiran, dan keyakinannya tentang situasi sosial ke dalam bentuk yang sederhana dan bermakna. Tidak peduli bagaimana kacau atau rancunya situasi, orang akan selalu mengadakan pengaturan. Dan organisasi ini, persepsi dan perhatian lingkungan ini mempengaruhi perilaku kita dalam situasi sosial.
Prinsip-prinsip Dasar
Pertama, kita cenderung mengelompokkan objek berdasarkan beberapa prinsip yang sederhana, seperti kesamaan (piring nampak lebih mirip satu sama lain daripada kulkas dan kompor, sehingga kita mengelompokkan piring-piring itu sebagai suatu kesatuan), kedekatan (buku-buku yang tersusun dalam jajaran akan dilihat sebagai suatu kesatuan, buku-buku yang bertebaran di meja perpustakaan tidak akan dilihat sebagai suatu kesatuan), atau pengalaman masa lalu (meja dan kursi dianggap sebagai suatu kesatuan, demikan pula Daud dan Goliat, tetapi kompor dan kursi tidak dianggap kesatuan).
Kedua, kita akan mengamati sesuatu sebagai hal yang menyolok (figure) dan yang lain sebagai latar belakang (ground). Biasanya rangsangan yang berwarna, bergerak, bersuara, unik, dekat, merupakan figure. Sedangkan rangsangan yang lembut, tidak menarik, tidak bergerak, tidak bersuara, umum, jauh, merupakan ground.
Prinsip pengelompokan dan pemusatan perhatian pada rangsang yang paling menyolok merupakan ciri-ciri persepsi yang bersifat otomatis dan berupa suatu kebiasaan yang hamper tidak mungkin dihindari untuk digunakan.
Menginterprestasikan Aspek Kepribadian yang Tidak Jelas
Pendekatan kognitif juga penting untuk menginterprestasi aspek-asperk yang tidak jelas dalam diri seseorang, hal-hal yang tidak dapat dilihat, didengar, diraba atau dicium seperti misalnya tujuan, motif, sikap dan ciri keperibadian. Pendekatan kognitif dalam psikologi sosial penting untuk memahami bagaimana kita membuat keputusan tentang sifat-sifat pokok seseorang. Bila kita mengamati adanya komentar yang tidak menyenangkan atau bila seseorang tidak mau bertemu pandang dengan kita, kita cenderung menyimpulkan bahwa dia tidak menyukai kita.
BAB III
PENUTUP
3.1   Kesimpulan
§  Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.
§  Psikologi sosial membahas perilaku sosial secara unik. Psikologi sosial menekankan faktor-faktor situasi sosial yang terjadi, yang mengundang tanggapan umum yang sama dari semua orang.
§  Ada beberapa pendekatan teoritis umum terhadap psikologi sosial, yang tidak perlu saling dipertentangkan. Setiap pendekatan berguna untuk mencoba memahami beberapa gejala, dan mungkin kurang dapat digunakan untuk memahami gejala lainnya.
§  Pendekatan biologis mencari sebab perilaku dalam karakteristik bawaan atau mekanisme fisiologik.
§  Teori atau pendekatan belajar menekankan pada pengalaman masa lalu seseorang; teori ini menganalisis perilaku yang terjadi berdasarkan apa yang telah dipelajari pada masa lalu.
§  Ahli teori insentif percaya bahwa orang bertindak untuk memperbesar keuntungan dan memperkecil kerugian.
§  Pendekatan kognitif memandang perilaku sebagai sesuatu yang terutama ditentukan oleh persepsi seseorang terhada situasi sosial.

3.2   Saran
Bagi para pembaca, semoga tidak terpengaruh situasi sosial yang tidak selamanya bernilai baik, serta mampu mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara tetap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupan bersama. Pembaca kiranya sadar terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap sosialnya.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 2002. Psikologi Sosial, Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Baron, R.A., & Byrne, D. 2004. Social Psychology. New Delhi: Pearson Education.
Cooper, C.L., dkk. 1996. Handbook of Work and Health Psychology. Chichester: John Wiley and Sons.
Hanurawan, Fattah, et.al. 2005. Psikologi Sosial: Terapan dan Masalah-masalah Sosial. Yogyakarta: UAD Pres.
McDoufall, W. 1908. An Introduction to Social Psychology. Buston: Luce.
Ross, E.A. 1908. Social Psychology: An Outline and Source Book. New York: Macmillan.
Sadava, S.W., & McCreary, D.R. 1997. Applied Social Psychology. Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.
Sarwono, S.W. 1991. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
Sarwono, S.W. 1997. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Sears, D.O., dkk. 1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
Shaw, M.E., & Costanzo, P.R. 1970. Theories of Social Psychology. New York: McGraw-Hill
Stephan, C.W., & Stephan, W.G. 1990. Two Social Psychologies (2nd ed). Belmont, CA: Wadsworth.
Ummah, Hairul. 2014. Pengertian Psikologi Sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar