BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelangsungan pengaruh-mempengaruhi dpat
melibatkan salah satu atau lebih dari keempat faktor interaksi yaitu imitasi,
sugesti, identifikasi dan simpati. Selanjutnya situasi sosial itu sudah
dirumuskan sebagai situasi di mana terlibat interaksi sosial, dan yang dapat
digolongkan ke dalam dua, golongan utama yaitu situasi kebersamaan dan situasi
kelompok, yang berbeda dalam intensitas
dan teraturnya interaksi yang terlibat di dalamnya. Dan yang ingin
dibahas saat ini tentang persepsi
sosial.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari persepsi sosial ?
2. Apa saja Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Persepsi ?
3. Bagaimana Proses
Terbentuknya Persepsi ?
4. Apa saja yang termasuk dari Sifat
Persepsi?
5. Apa Kekeliruan dan Kegagalan
Persepsi ?
1.3
Tujuan Penulisan Masalah
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan persepsi sosial
3. Untuk mengetahui Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
4. Untuk mengetahui Proses
Terbentuknya Persepsi
5. Untuk mengetahui Sifat
Persepsi
6. Untuk mengetahui Kegagalan
Persepsi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Persepsi Sosial
Menurut Brehm dan Kassin (1989), persepsi sosial
adalah penilaian-penilaian
yang terjadi dalam upaya manusia memahami orang lain. Tentu saja sangat penting,
namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk tubuh,
warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adalah beberapa hal yang
mempengaruhi persepsi sosial. Contohnya di Amerika Serikat, wanita berambut pirang
dinilai sebagai seorang yang hangat dan menyenangkan.
Yang dimaksudkan ialah kecakapan untuk melihat dan
memahami perasaan-perasaan, sikap-sikap, dan kebutuhan-kebutuhan
anggota-anggota kelompok. Kecakapan ini sangat dibutuhkan untuk memenihi tugas
pemimpin seperti yang dikemukakaknoleh kaum dinamika kelompok untuk menjalankan
group-contered leadership. Mengenai pentingnya sifat (kecakapan) ini untuk para
pemimpin telah dibuktikan pula oleh beberapa eksperimen, yaitu eksperimen
Chawdry & Newcomb, 1952, yang menyelidiki tiga kelompok mahasiswa yang
berlainan antara lain kelompok agama, kelompok politik, dan kelompok keahlian
sarjana. Anggota ketiga kelompok itu diselidiki dengan suatu skala attitude,
yaitu semacam test yang dapat menilai sampai dimana seseorang dapat menangkap
danmemahami sikap-sikap dan attitude-attitude anggota-anggota lainnya
sekelompok. Di samping itu kepada tiap-tiap anggota ketiga kelompok itu
diajukan pertanyaan untuk menyebut nama satu orang teman kelompoknya yang
menurut pendapatnya paling cakap untuk memimpin kelompok. Dengan demikian dapat
diketahui pula siapa di antara anggota kelompok dianggap paling cakap sebagai
pemimpin oleh kawan-kawannya.
Hasil eksperimen ini menyatakan, bahwa mereka yang
memperoleh pilihan yang paling banyak dari kawannya sebagai pemimpin, justru mencapai
nilai yang tinggi pada skala attitude tadi. Hasil eksperimen ini di dukung oleh
eksperimen-eksperimen lain.
Brems & Kassin (dalam
Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
·
Person, yaitu orang
yang menilai orang lain
·
Situasional, urutan
kejadian yang terbentuk berdasarkanpengalaman orang untuk meniiai sesuatu
·
Behavior, yaitu sesuatu
yang di lakukan oleh orang lain.Ada dua pandangan mengenai proses persepsi,
yaitu:
a.
Persepsi sosial,
berlangsung cepat dan otomatis tanpabanyak pertimbangan orang membuat
kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan
fisik dan perhatian sekilas.
b.
Persepsi sosial, adalah
sebuah proses yang kompleks,orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti
hingga di peroleh analisis secara
lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa
persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang
merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek,
kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut.
Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau
disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurangsempurna merupakan
salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994). Dalam usaha
menginterpretasi orang lain sering digunakan
dimensi-dimensi tertentu. Wrightman (1981) mengemukakan ada 6
dimensi pokok, yaitu:
1.
Dapat dipercaya – tidak
dapat dipercaya
2.
Rasional – tidak
rasional
3.
Altruis – orientasi
diri (selfness)
4.
Independen – conform
dengan kelompok
5.
Variatif – kesamaan
6.
Kompleksitas –
kesederhanaan
Melalui perkembangan dan pengalaman, orang membangun konsep
kepribadian implicit (implicit personality theory), yaitu asumsi-asumsi
adanya sifat-sifat tertentu yang berkorelasi dengan sifat lain. Orang yang
memiliki kecenderungan demikian disebut psikolog naïf.
Pengetahuan tentang orang-orang tertentu dan kaitannya
dengan atribut tertentu sering diistilahkan sebagai prototype. Hasil
prototype memunculkan adanya stereotype, yaitu pemberian atribut tertentu pada
sekelompok orang tertentu. Contoh: orang Indonesia ramah, orang Amerika
individualistis.
Dalam pembentukan kesan, stereotypesulit diabaikan
begitu saja. Stereotype akan membatasi persepsi dan komunikasi, stereotype juga bisa
dimanfaatkan untuk membina hubungan yang lebih lanjut. Pada konsep kepribadian
implicit, stereotype juga akan memunculkan illusorycorrelation, yaitu
mengaitkan secara berlebihan antara satu karakteristik dengan karakteristik
yang lain secara general.
Persepsi berlangsung saat seseorang menerima
stimulus dari dunia luar yang ditangkap oleh organ organ bantunya yang kemudian
masuk ke dalam otak. Didalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya
trwujud dalam sebuah pemahaman. Pemahaman ini yang kurang lebih disebut
presepsi .sebelum terjadi persepsi pada manusia, diperlukan sebuah stimulus
yang harus ditangkap melalui organ tubuh yang bisa digunakan sebagai alat bantu
untuk memahami lingkungannya.alat bantu ini dinamakan indra. Indra yang saat
ini diketahui secara universal adalah hidung mata, telings, lidah dan
kulit. Alat indra merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya.
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses
pencarian informasi untuk dipahami, jadi melalui persepsi sosial kita berusaha
mencari tahu dan memahami orang lain. Lebih khususnya lagi, dengan persepsi
sosial kita berusaha :
(1)
Mengetahui apa yang dipikirkan, dipercaya, dirasakan, diniatkan, dikehendaki,
dan didambakan orang lain;
(2)
Membaca apa yang ada di dalam diri orang lain berdasarkan ekpresi wajah,
tekanan suaram gerak-gerik tubuh, kata-kata, dan tingkah laku mereka;
(3)
Menyesuaikan tindakan sendiri dengan keberadaan orang lain berdasarkan
pengetahuan dan pembacaan terhadap orang tersebut
·
Menurut moskowitz dan
ogel presepsi merupakan proses yang integrated dari individu terhadap stimulus
yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi itu
merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus
yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang
berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.
·
Menurut Leavit persepsi
dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat
sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau
pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
-
Pembentukan
Kesan / Persepsi
Pengetahuan tentang orang-orang tertentu dan kaitannya
dengan atribut tertentu sering diistilahkan sebagai prototype. Hasil
prototype memunculkan adanya stereotype, yaitu pemberian atribut tertentu pada
sekelompok orang tertentu. Contoh: orang Indonesia ramah, orang Amerika
individualistis.
Dalam pembentukan kesan, stereotypesulit diabaikan
begitu saja. Stereotype akan membatasi persepsi dan komunikasi, stereotype juga bisa
dimanfaatkan untuk membina hubungan yang lebih lanjut.Pada konsep kepribadian
implicit, stereotype juga akan memunculkan illusorycorrelation, yaitu
mengaitkan secara berlebihan antara satu karakteristikdengan karakteristik yang
lain secara general.
2.2 Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pada
dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu ;
1. Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu
faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal
antara lain :
·
Fisiologis
Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya
informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk
memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk
mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap
lingkungan juga dapat berbeda.
·
Perhatian
Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan
untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental
yang ada pada suatu obyek.
Energi tiap
orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan
hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
·
Minat
Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung
pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk
mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk
memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
·
Kebutuhan yang searah
Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya
seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban
sesuai dengan dirinya.
·
Pengalaman dan ingatan
dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti
sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui
suatu rangsang dalam pengertian luas.
·
Suasana hati
Keadaan emosi mempengaruhi perilaku
seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang
dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi,
merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat
didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang
terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya
atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
persepsi adalah :
·
Ukuran dan penempatan
dari obyek atau stimulus
Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan
suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi
persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan
mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
·
Warna dari obyek-obyek
Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan
lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
·
Keunikan dan
kekontrasan stimulus
Stimulus luar yang penampilannya dengan
latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang
lain akan banyak menarik perhatian.
·
Intensitas dan kekuatan
dari stimulus
Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila
lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat.
Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi
persepsi.
·
Motion atau gerakan
Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap
obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang
diam.
2.3 Proses Terbentuknya
Persepsi
Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, juga Judy
C. Pearson dan Paul E. Nelson, menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga
aktivitas, yaitu:
a. Sensasi
(Asensi)
Sensasi adalah proses pengiriman pesan ke otak
melalui panca indera yaitu mata, hidung, telinga, lidah, kulit. Panca indera
adalah reseptor yang menghubungkan otak kita dengan lingkungan sekitar.
Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan,
dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap
sesuatu. Misal melihat pantai, mencium parfum, bersalaman, mencicipi masakan.
Setelah informasi itu kita tangkap dan kita rekam dalam otak kita masuk dalam
terhadap atensi
b. Atensi
Atensi adalah suatu tahap dimana kita memperhatikan
informasi yang telah ada sebelum kita menginterpretasikannya. Sebenarnya banyak
sekali hal yang tertangkap oleh panca indera, namun tidak semua kita
perhatikan. Misal kita mengobrol lewat telepon, informasi yang kita perhatikan
hanyalah suara lawan bicara meskipun saat itu kita juga sedang membaca koran
atau makan bakwan, ketika melihat sekumpulan orang berpakaian hitam, dan ada
satu orang berpakaian putih, tentunya kita lebih memperhatikan yang berbaju
putih, hal ini terjadi karena kita hanya akan memperhatikan apa yang kita
anggap paling bermakna bagi kita, paling berbeda dan paling menarik perhatian.
c. Interpretasi
Tahap interpretasi adalah tahap terakhir. Jika
persepsi dikatakan sebagai inti komunikasi, maka interpretasi adalah inti dari
persepsi. Interpretasi adalah proses penafsiran informasi atau pemberian makna
dari informasi yang telah kita tangkap dan kita perhatikan. Ketika mata kita
melihat matahari terbenam di pantai kemudian kita perhatikan, maka secara tidak
langsung kita akan menginterpretasikan pantai tersebut. Apakah menurut kita
indah, biasa saja atau bahkan jelek. Pendapat atau persepsi yang dihasilkan
tentunya akan beragam tergantung latar belakang kita masing-masing.
Sensasi, atensi dan interpretasi adalah
tahapan-tahapan yang dilalui untuk menghasilkan persepsi, semakin sama persepsi
setiap orang, maka semakin efektif komunikasi yang dilakukan. Persepsi setiap
orang akan sama jika mereka berasal dari latar belakang yang sama. Misal
sama-sama orang desa, sama-sama orang jaqwa dan sama-sama orang gila.
Persepsi-persepsi yang ada pada diri kita akan
mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, karena itu berfikirlah
positifdan obyektif dalam memandang sesuatu.
-
Sifat Persepsi
Beberapa hal yang patut kita pelajari menyangkut
persoalan dalam persepsi ini, Mulyana (2000: 176-196) mengungkapkan hal-hal
berikut:
a. Persepsi
mendasarkan pada pengalaman
Dikemukakan bahwa pola-pola perilaku seseorang itu
berdasarkan persepsi mengenai realitas sosial yang telah dipelajarinya (pada
masa lalu). Artinya, persepsi kita terhadap seseorang, objek, atau kejadian,
dan reaksi kita terhadap hal-hal itu amat tergantung pada pengalaman masa lalu
berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa. Seperti halnya cara kita
bekerja, menilai pekerjaan yang baik bagi kita, cara kita makan, cara kita
menilai kecantikan; semua ini amat tergantung pada apa yang telah diajarkan
budaya kita mengenai hal-hal tersebut.
b. Persepsi
bersifat selektif
Pada dasarnya melalui indera kita, setiap saat diri
kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus memberikan
tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila. Karena
itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan memperhatikan
hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya merupakan faktor utama
dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke dalam diri kita.
c. Persepsi
bersifat dugaan.
Karena pada dasarnya data yang kita peroleh melalui
penginderaan tidak pernah lengkap, maka sering kita melakukan
dugaan atau langsung melakukan penyimpulan. Coba perhatikan gambar apa yang
bisa dibuat dengan ketiga titik dan keempat titik berikut ini.
d. Persepsi
bersifat evaluatif.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang
mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata. Artinya, perasaan seseorang
sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang
objektif. Kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan
kepentingan subjektif kita sendiri. Karena itu persepsi bersifat evaluatif;
merupakan proses kognitif yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan
pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu sendiri.
e. Persepsi
bersifat kontekstual.
Dari setiap peristiwa komunikasi, seseorang selalu
dituntut untuk mengorganisasikan rangsangan menjadi suatu persepsi. Konteks nampaknya
berpengaruh kuat atas persepsi yang terbentuk dalam diri seseorang.
Sebagai contoh, terhadap gambar seseorang bisa
mengatakan bahwa itu adalah angka 13 karena konteksnya adalah angka-angka
lainnya, yaitu 11, 12, 14 dan 15. Tetapi bagi seseorang yang memiliki konteks
huruf-huruf A, C, D dan E, maka gambar tersebut adalah huruf B.
Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita
perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun paling tidak ada
tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang
tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan
orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang lain memiliki beberapa arti bagi kita
dalam berkomunikasi. Adalah hal yang tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata
mengamati kondisi internal orang lain. Namun melalui pengamatan terhadap
perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang
tersebut.
Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku
merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal
seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita
ajak berkomunikasi akan mendorong rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini
akan membantu kita untuk merasa lebih nyaman dalam melanjutkan komunikasi.
2.4 Kategori Sosial
Dalam pembentukan kesan terhadap orang lain, ada kecenderungan
untuk secepatnya mengkategorikan
orang tersebut kedalam suatu ciri tertentu. Penilaian yang cepat ini (snap
jugdment) memiliki arti
penting dalam proses pembentukan kesan selanjutnya. Contoh yang sering ditemu adalah munculnya
halo efek. Yang disebut gejala self-fulfilling prophecy adalah
pembuatan kategorisasi tertentu dengan diwarnai harapanberdasarkan asumsi
penilai.
-
Faktor-Faktor Yang
Berpengaruh pada Persepsi
Kesan
yang terbentuk dalam pikiran seseorang di saat pertama kali berjumpa dengan
orang lain ditentukan oleh berbagai hal, yaitu :
Ciri
ciri penampilan fisik ( fisikal attractiveness ) meliputi :
Penampilan
fisik akan menentukan bagaimana
persepsi kita terhadap orang lain. Penampilan fisik ini berakar pada:
ü Wajah
(menarik / tdk menarik)
ü Bagaimana cara berpakaian,
bahan, model,cara memakainya
ü Postur
tubuh, make up, potongan gayarambut
ü Assesories
yang dikenakan
Ciri
ciri sosial demografik (social demographic characteristic ) meliputi :
ü Jenis
Kelamin : umumnya perempuan dinilai
lebih rendah kemampuannya dibanding laki-laki dalam pekerjaan tertentu.(lihat
penelitian Goldberg 1968)
ü Suku
/ Ras / Etnis : Suatu hari kitadiminta unt bertemu dengan orang yang bernama
Situmorang yang berasal dari Batak,
dan pada hari lain kita diminta bertemu dengan Widodo Rahardjo yangberasal dari
Solo Jawa tengah. Biasanya sebelum kita bertemu kita membayangkan seperti apa
sifat/karakter rang yang akan kita jumpai. Dalam persepsi kita ada perbedaan sifat antara orang yang berbeda
suku
ü Status
Sosial Ekonomi meliputi : Social
economic performance (penampilan berdasar persepsi status sosial ekonomi) sering menjebak
penilaian terhadap orang lain). Social economic performance inibiasanya
dilihat/dinilai dari penampilan luaran. Misalnya,
tongkrongannya, style pergaulannya,
fashion, assesories, pekerjaan dll.
Komunikasi
non verbal ( non communication verbal skill management ) : Kesan terhadap orang
lain ikut ditentukan oleh komunikasi non verbal seperti :
ü Ekpresi
wajah (wajah adalah ekpresi kejiwaan)
ü Gerakan
tubuh/tangan/ gerak mata
ü Intonasi
suara
ü Kontak
pandangan mata
Dari
komunikasi non verbal kita bisa menarik
kesan tentang kondisi emosi, watak kepribadian dan kejujuran seseorang
Didepan telah dipaparkan bahwa apa yang ada dalam diri
individu akan dipengaruhi dalam individu mengadakan persepsi, ini merupakan
faktor internal. Di samping itu masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi
dalam proses persepsi, yaitu faktor stimulus itu sendiri dan faktor
lingkungan dimana persepsi itu berlangsung, dan ini merupakan faktor
eksternal. Stimulus dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan individu sebagai
faktor internal saling berinteraksi dalam individu mengadakan persepsi.
Agar stimulus dapat dipersepsi, maka stimulus harus cukup
kuat, stimulus harus melampaui ambang stimulus, yaitu kekuatan stimulus yang
minimal tetapi sudah dapat menimbulkan kesadaran, sudah dapat dipersepsi oleh
individu. Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam
persepsi.Stimulus yang kurang jelas, stimulus yang berwayuh arti, akan
berpengaruh dalam ketepatan
persepsi. Bila stimulus itu berwujud benda-benda bukan manusia, maka ketepatan persepsi
lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi, karna benda-benda yang di
persepsi tersebut akan berbeda bila yang dipersepsikan itu manusia.
Mengenai keadaan individu yang dapat mempengaruhi hasil
persepsi datang
dari dua sumber, yaitu yang berhubungan dengan segi kejasmanian,
dan yang berhubungan dengan segi psikologis. Bila sistem fisiologisnya
terganggu, hal tersebut akan berpengaruh dalam persepsi seseorang. Sedangkan
segi psikologis seperti telah dipaparkan di depan, yaitu antara lain mengenai
pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir, kerangka acuan, motivasi akan
berpengaruh pada seseorang dalam mengadakan persepsi.
Sedangkan lingkungan
atau situasi khususnya
yang melatar belakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam
persepsi,lebih-lebih bila objek persepsi adalah manusia. Objek dan lingkungan
yangmelatar belakangi
objek merupakan kebulatan atau kesatuan yang sulit dipisahkan.Objek yang sama
dengan situasi sosial yang berbeda, dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.
-
Teori-teori Atribusi
(Labelling)
Ada
3 teori atribusi, yaitu ;
1.
Theory of Correspondent
Inference (Edward Jones dan Keith Davis)
Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal, berarti dengan melihat perilakunya dapa tdiketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference).
Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal, berarti dengan melihat perilakunya dapa tdiketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference).
Bagaimana mengetahui bahwa perilaku berhubungan dengan
karakteristiknya?
a.
Dengan melihat kewajaran
perilaku. Orang yang bertindak wajar sesuai dengan keinganan masyarakat,
sulit untuk dikatakan bahwa tindakannya itu cerminan dari karakternya.
b.
Pengamatan
terhadapan perilaku yang terjadi pada situasi yang memunculkan beberapa pilihan.
c.
Memberikan peran
berbeda dengan peran yang sudah biasa dilakukan.Misalnya, seorang juru tulis
diminta menjadi juru bayar. Dengan peran yang baruakan tampak keaslian perilaku
yang merupakan gambaran dari karakternya.
2.
Model of Scientific
Reasoner (Harold Kelley, 1967, 1971)
Harrold Kelley mengajukan konsep untuk memahami penyebab
perilaku seseorang dengan memandang pengamat seperti ilmuwan, disebut
ilmuwan naïf. Untuk samapi pada suatu kesimpulan atribusi seseorang, diperlukan
tiga informasi penting. Masing-masing informasi juga harus menggambarkan
tinggi-rendahnya.
Tiga
informasi itu, adalah:
a.
Distinctiveness
Konsep ini merujuk pada bagaimana seorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda. Distinctivness yang tinggi terjadi apabila orang yang bersangkutan mereaksi secara khusus pada suatu peristiwa. Sedangkan distinctiveness rendah apabila seseorang merespon sama terhadap stimulus yang berbeda.
Konsep ini merujuk pada bagaimana seorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda. Distinctivness yang tinggi terjadi apabila orang yang bersangkutan mereaksi secara khusus pada suatu peristiwa. Sedangkan distinctiveness rendah apabila seseorang merespon sama terhadap stimulus yang berbeda.
b.
Konsistensi
Hal ini menunjuk pada pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa. Konsistensi dikatakan tinggi apabila seseorang merespon sama untuk stimulus yang sama pada waktu yang berbeda.Apabila responnya tidak menentu maka seseorang dikatakan konsistensinya rendah.
Hal ini menunjuk pada pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa. Konsistensi dikatakan tinggi apabila seseorang merespon sama untuk stimulus yang sama pada waktu yang berbeda.Apabila responnya tidak menentu maka seseorang dikatakan konsistensinya rendah.
c.
Konsensus
Apabila oranglain tidak bereaksi sama dengan seseorang, berarti konsessusnya rendah, dan sebaliknya. Selain itu konsep tentang consensus selalu melibatkan orang lain sehubungan dengan stimulus yang sama.
Apabila oranglain tidak bereaksi sama dengan seseorang, berarti konsessusnya rendah, dan sebaliknya. Selain itu konsep tentang consensus selalu melibatkan orang lain sehubungan dengan stimulus yang sama.
Dari
ketiga informasi diatas, dapat ditentukan atribusi pada seseorang. Menurut Kelley ada 3 atribusi,
yaitu ;
Ø Atribusi
Internal, dikatakan perilaku seseorang merupakan gambaran dari karakternya bila
distinctivenessnya rendah, konsensusnya rendah, dan konsistensinya tinggi.
Ø Atribusi
Eksternal, dikatakan demikian apabila ditandai dengan distinctiveness yang
tinggi, consensus tinggi, dan konsistensinya juga tinggi.
Ø Atribusi
Internal-Eksternal, hal ini ditandai dengan distinctiveness yang tinggi, consensus
rendah, dan konsistensi tinggi.
3.
Atribusi Keberhasilan dan
Kegagalan (Weiner)
Ada dua macam
dimensi pokok:
a.
Keberhasilan dan
kegagalan memiliki penyebab internal atau eksternal.
b.
Stabilitas penyebab,
stabil atau tidak stabil.
-
Kestabilan
Emosi (Emotional stability)
Mengenal pokok-pokok ini telah diadakan berbagai
penelitian yang menghasilkan bahwa kestabilan atau kemantapan emosi itu
merupakan faktor penting dalam usaha kepemimpinan.
Suatu penelitian pada tentara Inggris yang diadakan
oleh Harris, 1949 (7), menghasilkan bahwa perwira yang baik, dibandingkan
dengan perwira yang kurang memuaskan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
warmth of feeling, spontaneity of ekspression, objektivity of social thinking,
and cooperativeness of social thinking.
Suatu penelitian lain yang diadakan pada kelompok
organisasi mahasiswa menyatakan bahwa pemimpin-pemimpin lebih banyak memiliki
sikap perasaan yang positif terhadap lingkungannya daripada bukan pemimpin;
sedangkan mahasiswa yang non-leader menunjukkan sikap negatif serta kekurangan
kepercayaan diri sendiri.
Penelitian oleh Hollander, 1954 (8) kepada
kadet-kadet Angkatan Laut Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka yang dianggap
pemimpijn yang baik oleh kawannya menunjukkan sikap-sikap otoriter yang jauh
lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak dianggap sebagai pemimpin
yang cocock.
Berdasarkan banyak kenyataan penelitian, dapatlah
diambil kesimpulan bahwa pemimpin-pemimpinyang baik lebih banyak memiliki emosi
yang stabil daripada mereka yang bukan pemimpin.
Beberapa hal yang patut kita pelajari menyangkut
persoalan dalam persepsi ini, Mulyana (2000: 176-196) mengungkapkan hal-hal
berikut:
a. Persepsi
mendasarkan pada pengalaman
Dikemukakan bahwa pola-pola perilaku seseorang itu
berdasarkan persepsi mengenai realitas sosial yang telah dipelajarinya (pada
masa lalu). Artinya, persepsi kita terhadap seseorang, objek, atau kejadian,
dan reaksi kita terhadap hal-hal itu amat tergantung pada pengalaman masa lalu
berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa. Seperti halnya cara kita
bekerja, menilai pekerjaan yang baik bagi kita, cara kita makan, cara kita
menilai kecantikan; semua ini amat tergantung pada apa yang telah diajarkan
budaya kita mengenai hal-hal tersebut.
b. Persepsi
bersifat selektif
Pada dasarnya melalui indera kita, setiap saat diri
kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus memberikan
tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila. Karena
itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan memperhatikan
hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya merupakan faktor
utama dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke dalam diri kita.
c. Persepsi
bersifat dugaan.
Karena
pada dasarnya data yang kita peroleh melalui penginderaan tidak pernah lengkap,
makasering kita melakukan dugaan atau langsung melakukan penyimpulan. Coba
perhatikan gambar apa yang bisa dibuat dengan ketiga titik dan keempat titik
berikut ini.
d. Persepsi
bersifat evaluatif.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang
mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata. Artinya, perasaan seseorang
sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang
objektif. Kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan
kepentingan subjektif kita sendiri. Karena itu persepsi bersifat evaluatif;
merupakan proses kognitif yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan
pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu sendiri.
e. Persepsi
bersifat kontekstual.
Dari setiap peristiwa komunikasi, seseorang selalu
dituntut untuk mengorganisasikan rangsangan menjadi suatu persepsi. Konteks
nampaknya berpengaruh kuat atas persepsi yang terbentuk dalam diri seseorang. Sebagai contoh,
terhadap gambar seseorang bisa mengatakan bahwa itu adalah angka 13 karena konteksnya
adalah angka-angka lainnya, yaitu 11, 12, 14 dan 15. Tetapi bagi seseorang yang
memiliki konteks huruf-huruf A, C, D dan E, maka gambar tersebut adalah huruf
B.
Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita
perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun paling tidak ada
tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita ketahui, yaitu tujuan orang
tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan
orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang lain memiliki beberapa arti bagi kita
dalam berkomunikasi. Adalah hal yang tidak mungkin bagi kita untuk secara nyata
mengamati kondisi internal orang lain. Namun melalui pengamatan terhadap
perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang
tersebut.
Ada anggapan bahwa elemen non-verbal dari perilaku
merupakan refleksi yang paling akurat
dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan
antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendorong rasa
saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk merasa lebih
nyaman dalam melanjutkan komunikasi.
-
Persepsi
Sebagai Inti Komunikasi Interpersonal
Persepsi dikatakan inti komunikasi karena persepsi
sangat mempengaruhi proses komunikasi yang dilakukan baik komunikasi
interpersonal maupun komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal adalah
komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Misal berfikir, menulis,
merenung, menggambar dan sebagainya. Sedangkan komunikasi interpersonal adalah
komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau kelompok, misal
mengobrol lewat telepon, korespondensi dll.
Persepsi atau cara pandang kita terhadap sesuatu
akan menentukan jenis dan kualitas komunikasi yang kita lakukan. Misal kita
berhadapan dengan seseorang yang kita persepsikan baik, maka komunikasi yang
kita lakukan dengannya pun akan baik pula, begitu juga sebaliknya.
Definisi cantik menurut orang yang satu dengan yang
lain pasti mempunyai jawaban yang berbeda-beda, mungkin ada yang menjawab
cantik itu gendut, ramping atau bahkan kurus kering. Hal itu dikarenakan
persepsi setiap orang atau kelompok dalam memandang suatu hal berbeda-beda yang
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, psikologi dan kondisi
faktual yang saat itu kita tangkap. Kecantikan menurut orang dayak adalah
seseorang yang memakai banyak anting sampai daun telinganya menjuntai ke bawah.
Menurut penduduk fiji, kecantikan dilihat dari kemampuan reproduksi yakni tubuh
yang subur dan keturunan yang banyak. Berbeda dengan masyarakat modern kota,
kecantikan diartikan sebagai seorang wanita yang bertubuh ramping, putih, dan
berambut lurus. Sesuatu diintepretasikan berbeda-beda oleh setiap orang dan
kelompok tergantung latar belakangnya masing-masing.
2.5 Kekeliruan dan Kegagalan Persepsi
Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu
penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi
adalah sebagai berikut:
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita
untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain,
kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan
fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat
memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.
Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah
menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara.atribusi kita juga
keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor
internal, padahal justru faktor eksternal-lah yang menyebabkannya, atau
sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal
faktor internal-lah yang membangkitkan perilakunya.
Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah
pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha
menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atau
mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu
sebagai lengkap.
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Persepsi merupakan suatu proses penginderaan,
stimulus yang diterima oleh individu melalui alat indera yang kemudian
diinterpretasikan sehingga individu dapat memahami dan mengerti tentang
stimulus yang diterimanya tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus ini
biasanya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan proses belajar individu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah
faktor internal dan faktor eksternal.
Sifat dari persepsi adalah persepsi mendasarkan pada pengalaman,
persepsi bersifat selektif, dugaan, evaluatif dan kontekstual. Kekeliruan dan kegagalan persepsi disebabkan
oleh kesalahan atribusi, efek halo, stereotif, prasangka dan gegar budaya
Persepsi merupakan proses internal yang dilalui
individu dalam menyeleksi dan mengatur stimuli yang datang dari luar. Stimuli
ditangkap oleh indera, dan secara spontan pikiran dan perasaan kita akan
memberi makna atas stimuli tersebut.persepsi dapat dikatakan sebagai proses
individu dalam memahami kontak/hubungan dengan dunia sekelilingnya. Informasi
ditangkap oleh indera dengan cara mendengar, melihat, meraba, mencium dan
merasa. Informasi itu dikirim ke otak untuk dipelajari dan diinterpretasikan.
DAFTAR PUSTAKA
http://educationarticlesjournal.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-persepsi-sosial.html/m=1
Dr. W. A.
Gerungan Dipl. Psych, Psikologi Sosial,
PT. Eresco, Bandung, 1986
Tidak ada komentar:
Posting Komentar