BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Langkah terobosan
Sigmund Freud – dengan psikoanalisisnya –berkembang sesudah tahun 1906 ketika
Carl Jung dan Bleuler berminat dan bergabung pada psikoanalisis. Pada tahun
1908 diadakan kongres pertama bagi masyarakat psikoanalisa di Vienna, Austria
yang mengambil tempat di Salzburg dan kongres psikoanalisis internasional yang
pertama di Buremberg pada tahun 1910. Terobosan mendapat status yang lebih
tinggi ketika Carl Jung terpilih dan di tugaskan sebagai pimpinan tertinggi
dari masyarakat psikoanalisis internasional. Pada tahun 1910 itu pulalah
didirikan cabang-cabangnya di beberapa negara penting di dunia.
Akan tetapi perjalanan
psikoanalisa ini bukan tanpa aral dan rintangan. Banyak kritikan yang di
arahkan pada psikoanalisa Freud ini. Pada umumnya Freud di kritik karena dia
kurang memberikan perhatian yang seimbang terhadap faktor sosial dan kebudayaan
dalam
pembentukan kepribadian. Akan tetapi walau demikian, pengaruh dari psikoanalisa
ini sudah terbangun kuat pada setiap pikiran manusia. Hal itu dapat kita lihat
dari banyaknya psikolog dan psikiater yang menggunakan ide psikoanalitik untuk
menganalisa riwayat hidup dan prilaku tokoh sejarah yang amat menonjol. Pada
saat bersamaan banyak ilmuwan perilaku di kemudian hari mengembangkan Teori
Neo-Freudian. Teori ini merupakan usaha dan hasil modifikasi terhadap teori
psikoanalitik dasar yang diperkenalkan oleh murid-murid Freud.
Neo Psikoanalisis atau biasa juga disebut sebagai neo Freudian. Aliran
ini muncul karena beberapa tokoh yang tidak sependapat dengan teori yang
disampaikan oleh Freud. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Jung, Adler, Horney,
Fromm, dan Sullivan.
B.
Rumusan Masalah
Apakah
teori-teori Neo-Freudian?
C.
Tujuan Penulisan
Untuk
menjelaskan teori-teori Neo-Freudian
BAB II
PEMBAHASAN
A.
CARL GUSTAV JUNG
Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli
1875 di Kesswyl, satu Kota disekitar Lake Constance di Canton Thurgau Swss.
Ketika Asosiasi Masyarakat Psikoanalisa Internasional didirikan pada tahun
1910, Carl Jung menjadi ketuanya yang pertama. Walaupun beberapa waktu
kemudian,tepatnya pada April 1914 Jung meletakkan jabatannya dan pada Agustus
1914 Jung pun menarik diri dari keanggotaan . Hal itu karena Carl Jung tidak
dapat menerima pendapat Freud bahwa libido itu sepenuhnya diwarnai oleh kenikmatan
sexual dan juga terhadap penekanan pada masa kanak-kanak. Akan tetapi walau
demikian, pokok-pokok pikiran Carl Jung masih tetap berdasarkan atas
ketidaksadaran makhluk ( manusia ). Salah satu pendapatnya yang merupakan
sumbangan besar bagi dunia psikologi adalah ketidaksadaran kolektif .
Jung pada mulanya seorang pengikut setia Freud, namun kemudian mempunyai
beberapa pandangan penting yang berbeda. Pertama, Jung menolak pandangan Freud
mengenai pentingnya seksualitas. Menurutnya, kebutuhan seks setara dengan
kebutuhan manusia lainnya, seperti makan, kebutuhan spiritual dan pengalaman
religious. Kedua, Jung menentang pandangan mekanistik terhadap dunia dari
Freud, bagi Jung tingkah laku manusia dipicu bukan hanya oleh masa lalu, tetapi
juga oleh pandangan orang mengenai masa depan, tujuan dan aspirasinya. Pandangan Jung bersifat purposive-mekanistik,
even masa lalu dan antisipasi masa depan dapat mempengaruhi/membentuk tingkah
laku. Freud memandang kehidupan sebagai usaha memusnahkan atau menekan
kebutuhan insting yang terus menerus timbul, sedang Jung memandang kehidupan
sebagai perkembangan yang kreatif. Ketiga, Jung mengemukakan teori kepribadian
yang bersifat rasial atau filogenik. Filogenik adalah evolusi genetika yang
berkait dengan sekelompok makhluk hidup. Asal muasal kepribadian secara
filogenik berada di keturunan, melalui jejak ingatan dari pengalaman masa lalu
manusia.
Carl Jung terkenal
sebagai Analitycal Psychology. Teori
Jung terdiri dari sistem-sistem yang berbeda namun berhubungan satu sama lain.
- Ketidaksadaran
pribadi; Merupakan
daerah yang berdekatan dengan ego, terdiri dari pengalaman-pengalaman yang
pernah disadari, tetapi kemudian direpresi, dilupakan, atau terabaikan,
juga pengalaman-pengalaman yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan
sadar pada subjek
- Kompleks; Merupakan susunan
perasaan, pikiran, persepsi dan ingatan-ingatan yang terdapat dalam
ketidaksadaran pribadi, kompleks akan menarik berbagai pengalaman ke
arahnya.
- Ketidaksadaran
kolektif; Berisi
ingatan laten hal-hal yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang.
Merupakan sisa psikis perkembangan evolusi manusia, yang menumpuk akibat
pengalaman yang berulang dari generasi ke generasi. Merupakan bagian yang
terlepas dari segi pribadi dalam
kehidupan seseorang, ketidaksadaran kolektif semua orang relatif
sama. Ketidaksadaran kolektif terkait dengan struktur otak pada semua ras
manusia yang relatif sama. Ketidaksadaran
kolektif jika menguasai kesadaran dapat menumbuhkan penyimpangan
seperti phobia, delusi, dan irasionalitas lain.
- Dalam
ketidaksadaran kolektif terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi
kepribadian, antara lain :
ü arkhetip,
yaitu suatu bentuk pikiran/ide universal yang mengandung emosi yang besar
ü persona,
topeng yang dipakai sebagai respon terhadap tuntutan kebiasaan dan tradisi
masyarakat dan kebutuhan arkhetip
ü anima
dan animus, anima adalah sisi feminin dari kepribadian pria, sedang animus
adalah sisi maskulin dari kepribadian perempuan
ü bayang-bayang/shadow,
merupakan insting binatang yang diwarisi manusia dalam evolusinya dari
bentuk-bentuk kehidupan rendah
ü self/diri
merupakan titik pusat kepribadian, pemersatu sistem-sistem yang ada, memberi
kesatuan dan keseimbangan kepribadian.
Aplikasi
1. Tes
asosiasi kata
Tujuan tes asosiasi Jung adalah untuk mengungkap
perasaan-perasaaan yang bermuatan kompleks gambaran-gambaran yang terikat dalam
lingkaran kompleks mempunyai muatan emosi yang besar, dan ungkapan emosional
itu dapat diukur. Jung memakai 100 kata sebagai stimulus yang dipilih, disusun
untuk memancing reaksi emosi. Klien diminta untuk merespon setiap kata dengan
kata pertama yang muncul dalam pikirannya. Respon kata itu dicatat dilengkapi
dengan pengukuran waktu reaksi, degup jantung dan respon galvanic kulit.
Dilakukan tes ulang untuk memperoleh konsistensi jawaban. Reaksi-reaksi
tertentu menjadi pertanda bahwa stimulus kata itu menyentuh kompleks.
2. Psikoterapi
Ketika menjalani terapi, menurut Jung kliennya akan
melewati empat tahapan, yaitu :
- Konvensi
(pengakuan) : mirip dengan katarsis dari Freud
- Elucidation
(pencerahan) : tahap ini merupakan tahap interpretasi dan penjelasan,
penyebab timbulnya tingkah laku neurosis yang tidak dikehendaki.
- Edukasi :
terapis mendorong klien untuk memperlajari tingkah laku baru, agar klien
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
- Transformasi
: memberi jalan klien mencapai realisasi diri.
Jung memakai pendekatan ekletik dalam teori dan
praktek psikoterapinya. Perlakuannya kepada klien bervariasi, tergantung pada
usia, tahap perkembangan dan jenis neurosisnya. Tujuan terapi Jung adalah
membantu klien neurotic menjadi lebih sehat dan mendorong klien yang lebih
sehat untuk bekerja mandiri mencapai realisasi dirinya.
3. Analisis
mimpi
Pandangan Jung mengenai mimpi ada yang sama dan
berbeda dengan Freud. Persamaannya mimpi itu mempunyai makna yang harus
dicermati secara seksama, mimpi muncul dari dalam dunia tak sadar, dan makna
mimpi diekspresikan dalam bentuk simbolik. Perbedaannya Freud memandang mimpi
sebagai pemenuhan hasrat dan simbolisasi mimpi berhubungan dengan dorongan
seksual. Sedang Jung memandang mimpi sebagai usaha spontan mengetahui hal yang
tidak diketahui dalam tak sadar sebagai bagian dari pengembangan kepribadian.
Kritik
Teori Jung banyak
menyentuh dunia religious baik memakai pandangan agama untuk memahami kehidupan
jiwa manusia, atau sebaliknya memakai pendekatan fenomenologi dari psikologi
untuk memahami agama. Teori Jung masih bersifat konsep-konsep yang membutuhkan
banyak hipotesa dan uji eksperimen. Jung dikritik dalam pemakaian metode riset
komparatif, pengabaian kontrol dalam eksperimen, dan konsepnya mengenai tak
sadar kolektif bersifat spekulatif. Teorinya dikembangkan dari
pengalaman-pengalaman pribadi seperti halusinasi, depresi, keinginan bunuh diri
dan agresi, sukar dibuktikan secara ilmiah.
B.
ALFRED ADLER
Adler semula anggota bahkan
ketua masyarakat psikoanalisis Wina yang menjadi organisasi pengembang teori
Freud, namun kemudian memisahkan diri karena mengembangkan ide-idenya sendiri. Dia
kemudian membentuk kelompoknya sendiri, yaitu individual psychology. Psikologi Individual
adalah psikologi yang memandang individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan
tidak terbagi dalam aspek-aspek seperti id, ego dan super ego. Psikologi
individual menekankan pada keunikan kepribadian individu. Adler berpendapat
bahwa setiap orang merupakan konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat,
minat-minat dan nilai-nilai setiap perbuatan yang dilakukan orang membawa corak
khas gaya hidupnya sendiri. Perbedaan prinsip Adler dengan Freud yaitu :
1.
Freud
memandang komponen kehidupan yang sehat adalah kemampuan mencintai dan
berkarya. Bagi Adler masalah hidup selalu bersifat sosial. Fungsi hidup sehat
bukan hanya mencintai dan berkarya, tetapi juga merasakan kebersamaan dengan
orang lain dan memperdulikan kesejahteraan mereka. Manusia dimotivasi oleh
dorongan sosial bukan dorongan seksual. Cara orang memuaskan kebutuhan seksual
ditentukan oleh gaya hidupnya, bukan sebaliknya dorongan seks yang mengatur tingkah
laku. Dalam satu segi, Adler sama dengan Freud dan Jung yakni kepribadian
memiliki sifat biologi, kodrat, dan inherent membentuk kepribadian manusia.
Freud mementingkan seks, Jung menekankan pola pemikiran primodial, sedang Adler
menekankan minat sosial.
2.
Freud
memandang kepribadian sebagai proses biologik mekanistik, sedang Adler termasuk
pelopor ego kreatif.
3.
Adler
menekankan adanya keunikan pribadi. Setiap pribadi merupakan konfigurasi unik
dari motif-motif, sifat, minat dan nilai-nilai. Setiap perbuatan dilakukan oleh
orang secara khas gaya hidup orang itu.
4.
Adler
memandang kesadaran sebagai pusat kepribadian bukan ketidaksadaran.
Bagi Adler manusia itu lahir dalam keadaan tubuh yang lemah, tak
berdaya. Kondisi ketidakberdayaan itu menimbulkan perasaan inferioritas dan
ketergantungan kepada orang lain. Psikologi individual memandang individu
sebagai makhluk yang saling tergantung secara sosial.
Aplikasi
1. Keadaan
keluarga
Dalam terapi Adler hamper selalu menanyai kliennya
mnegenai keadaan keluarga yakni urutan kelahiran, jenis kelamin, dan usia
saudara-saudara sekandung. Bahasan mengenai keluarga dapat dijadikan
pertimbangan bagi orang tua dalam mengasuh anak-anaknya. Adler mengembangkan
teori urutan lahir, didasarkan pada keyakinannya pada keturunan, lingkungan dan
kreativitas individual bergabung menentukan kepribadian. Dalam sebuah keluarga
setiap anak lahir dengan unsure genetic yang berbeda, masuk ke dalam setting
sosial yang berbeda, dan anak-anak itu menginterpretasi situasi dengan cara yang
berbeda karena itu penting untuk melihat urutan kelahiran dan perbedaan cara
orang menginterpretasi pengalamannya.
2. Psikoterapi
Menurut Adler psikopatologi merupakan akibat dari
kurangnya keberanian, perasaan inferior yang berlebihan dan minat sosial yang
kurang berkembang. Jadi tujuan utama psikoterapinya adalah meningkatkan
keberanian, mengurangi perasaan inferior dan mendorong berkembangnya minat
sosial.
Kritik
Seperti
Freud dan Jung, teori Adler secara empiris tidak mempunyai dukungan yang
berarti. Konsep-konsep dasar teorinya, seperti dasar menjadi superiorita,
kompleks inferior, dan kecenderungan pengamanan tidak disertai dengan bukti
metodologis sehingga orang lain yang mencoba mengulang apa yang dilakukan Adler
akan sampai pada kesimpulan yang berbeda.
C.
KAREN HORNEY
Horney pada mulanya pengikut Freud yang kemudian terpengaruh oleh Jung
dan Adler. Akhirnya dia mengembangkan pendekatan kepribadian yang holistik.
Manusia berada dalam satu totalitas pengalaman dan fungsinya, dan bagian-bagian
kepribadian seperti fisikokimia, emosi, kognisi, sosial, cultural, spiritual
hanya dapat dipelajari dalam hubungannya satu dengan yang lain sebagai satu
kepribadian yang utuh. Horney menentang teori Freud dalam:
1.
Teori
Freud terlalu mekanistik dan biologic sehingga tidak bisa menggambarkan
keutuhan motivasi dan tingkah laku manusia.
2.
Perhatian
Freud terhadap interrelasi manusia sangat kecil, sehingga berakibat penekanan
yang salah pada motivasi seksual dan konflik.
3.
Tingkah
laku agresi dan destruksi bukan hereditas seperti yang dikemukakan Freud,
seperti merupakan sarana bagaimana orang berusaha melindungi keamanannya.
4.
Freud
berpendapat penis envy adalah
gambaran wanita yang inferior dan cemburu karena peran kelaminnya lebih rendah
dari laki-laki. Sedangkan Horney berpendapat bahwa penis envy adalah simbolik wanita yang menginnginkan persamaan
status dan kekuasaan seperti pria.
Aplikasi
1. Psikologi
wanita
Sebagai pengikut Freud,
Horney berangsur-angsur menyadari bahwa pandangan psikoanalitis tradisional
mengenai wanita tidak seimbang. Dia kemudian mengembangkan sendiri teori
psikologi wanita mengenai perbedaan pria dan wanita, Oedipus kompleks, dan penis envy.
2. Psikoterapi
Menurut Horney,
neurosis berkembang dari konsep dasar yang mulai muncul pada masa anak-anak.
Ketika orang berusaha mengatasi konsep dasar itu mereka umumnya memakai salah
satu dari tiga kecenderungan neurotic, yakni bergerak mendekat, melawan atau
menjauh. Tujuan terapi Horney adalah membantu klien secara bertahap berkembang
ke arah realisasi diri, berhenti dari berfantasi diri ideal, melepaskan
pencarian kemasyuran neurotic, dan mengubah benci diri menjadi diri nyata.
Horney juga memakai asosiasi bebas dan analisis mimpi untuk memahami kliennya.
Kritik
Teori Horney tidak
dikembangkan memakai data yang spesifik, lebih banyak memakai spekulasi yang
sukar diuji. Seperti Freud, teorinya banyak didasarkan pada pengalaman klinik
dan kontak-kontak pribadinya dengan penderita neurosis.
D. ERICH
FROMM
Fromm dapat digelari sebagai teoritisi kepribadian Marxian, karena
pandangannya sangat dipengaruhi oleh Karl Marx. Namun dia sendiri memilih nama
teorinya “humanisdialektik” karena yang ingin dia tunjukkan adalah perhatiannya
terhadap perjuangan manusia yang tidak pernah menyerah untuk memperoleh
martabat dan kebebasan, dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia untuk
berhubungan dengan orang lain. Dia mencoba menggabungkan teori Freud dengan teori
Marx. Fromm yakin bahwa banyak temuan Freud seperti peran ketidaksadaran dalam
tingkah laku manusia, sangat signifikan untuk memahami kepribadian manusia.
Tetapi menurutnya Freud melakukan kesalahan dalam beberapa hal, khususnya
mengenai penekanannya terhadap fungsi individual melebihi pentingnya
interrelasi antara individu dengan
lingkungan dan mengenai asal mula tingkah laku seksual.
Teori Fromm
Tema dasar dari dasar
semua tulisan Fromm adalah individu yang merasa kesepian dan terisolir karena
ia dipisahkan dari alam dan orang-orang lain. Keadaan isolasi ini tidak
ditemukan dalam semua spesies binatang, itu adalah situasi khas manusia. Dalam
bukunya Escape from Freedom (1941), ia mengembangkan tesis bahwa manusia
menjadi semakin bebas dari abad ke abad, maka mereka juga makin merasa kesepian
(being lonely). Jadi, kebebasan menjadi keadaan yang negatif dari mana manusia
melarikan diri. Dan jawaban dari kebebasan yang pertama adalah semangat cinta
dan kerjasama yang menghasilkan manusia yang mengembangkan masyarakat yang
lebih baik, yang kedua adalah manusia merasa aman dengan tunduk pada penguasa
yang kemudian dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Dalam buku-buku Fromm
berikutnya (1947, 1955, 1964), dikatakan bahwa setiap masyarakat yang telah diciptakan
manusia, entah itu berupa feodalisme, kapitalisme, fasisme, sosialisme, dan
komunisme, semuanya menunjukkan usaha manusia untuk memecahkan kontradiksi
dasar manusia. Kontradiksi yang dimaksud adalah seorang pribadi merupakan
bagian tetapi sekaligus terpisah dari alam, merupakan binatang sekaligus
manusia. Sebagai binatang, orang memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik tertentu
yang harus dipuaskan. Sebagai manusia, orang memiliki kesadaran diri, pikiran
dan daya khayal. Pengalaman-pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah
lembut, cinta, perasaan kasihan, sikap-sikap perhatian, tanggung jawab,
identitas, intergritas, bisa terluka, transendensi, dan kebebasan, nilai-nilai
serta norma-norma.
Kemudian teori Erich
Fromm mengenai watak masyarakat mengakui asumsi transmisi kebudayaan dalam hal
membentuk kepribadian tipikal atau kepribadian kolektif. Namun Fromm juga
mencoba menjelaskan fungsi-fungsi sosio-historik dari tipe kepribadian tersebut
yang menghubungkan kebudayaan tipikal dari suatu kebudayaan obyektif yang
dihadapi suatu masyarakat. Untuk merumuskan hubungan tersebut secara efektif,
suatu masyarakat perlu menerjemahkannya ke dalam unsur-unsur watak (traits)
dari individu anggotanya agar mereka bersedia melaksanakan apa yang harus
dilakukan.
Fromm membagi sistem struktur masyarakat menjadi tiga bagian berdasar karakter sosialnya:
Fromm membagi sistem struktur masyarakat menjadi tiga bagian berdasar karakter sosialnya:
1. Sistem
A, yaitu masyarakat-masyarakat pecinta kehidupan. Karakter sosial masyarakat
ini penuh cita-cita, menjaga kelangsungan dan perkembangan kehidupan dalam
segala bentuknya. Dalam sistem masyarakat seperti ini, kedestruktifan dan
kekejaman sangat jarang terjadi, tidak didapati hukuman fisik yang merusak.
Upaya kerja sama dalam struktur sosial masyarakat seperti ini banyak dijumpai.
2. Sistem
B, yaitu masyarakat non-destruktif-agresif. Masyarakat ini memiliki unsur dasar
tidak destruktif, meski bukan hal yang utama, masyarakat ini memandang
keagresifam dan kedestruktifan adalah hal biasa. Persaingan, hierarki merupakan
hal yang lazim ditemui. Masyarakat ini tidak memiliki kelemah-lembutan, dan
saling percaya.
3. Sistem
C, yaitu masyarakat destruktif. Karakter sosialnya adalah destruktif, agresif,
kebrutalan, dendam, pengkhianatan dan penuh dengan permusuhan. Biasanya pada
masyarakat seperti ini sangat sering terhadi persaingan, mengutamakan kekayaan,
yang jika bukan dalam bentuk materi berupa mengunggulkan simbol.
Fromm
juga menyebutkan dan menjelaskan lima tipe karakter sosial yang ditemukan dalam
masyarakat dewasa ini, yakni:
1. Tipe Reseptif (mengharapkan dukungan dari pihak luar)
2. Tipe Eksploitasi (memaksa orang lain untuk
mengikuti keinginannya)
3. Tipe Penimbunan (suka mengumpulkan dan menimbun
barang suatu materi)
4. Tipe Pemasaran (suka menawarkan dan menjual
barang)
5. Tipe Produktif (karakter yang kreatif
dan selalu berusaha untuk menggunakan barang-barang untuk suatu kemajuan)
6. Tipe Nekrofilus-biofilus (nekrofilus
orang yang tertarik dengan kematian, biofilus:orang yang mencintai kehidupan)
Fromm
juga memngemukakan bahwa bila masyarakat berubah secara mendasar, sebagaimana
terjadi ketika feodalisme berubah menjadi kapitalisme atau ketika sistem pabrik
menggeser tenaga tukang, perubahan semacam itu akan mengakibatkan
perubahan-perubahan dalam karakter sosial manusia. Persoalan hubungan seseorang
dengan masyarakat merupakan keprihatinan besar Fromm. Menurut Fromm ada
validitas proposisi-proposisi berikut :
1). Manusia mempunyai kodrat esensial bawaan,
2). Masyarakat diciptakan oleh manusia untuk
memenuhi kodrat esensial ini,
3). Tidak satu pun bentuk masyarakat yang pernah
diciptakan berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensi manusia, dan
4). Eksistensi manusia adalah mungkin menciptakan
masyarakat semacam itu.
Kemudian
Fromm mengemukakan tentang masyarakat yang seharusnya yaitu dimana manusia
berhubungan satu sama lain dengan penuh cinta, dimana ia berakar dalam
ikatan-ikatan persaudaraan dan solidaritas, suatu masyarakat yang memberinya
kemungkinan untuk mengatasi kodratnya dengan menciptakannya bukan dengan
membinasakannya, dimana setiap orang mencapai pengertian tentang diri dengan
mengalami dirinya sebagai subjek dari kemampuan-kemampuannya bukan dengan
konformitas, dimana terdapat suatu sistem orientasi dan devosi tanpa orang
perlu mengubah kenyataan dan memuja berhala. Bahkan Fromm mebgusulkan suatu nama
untuk masyarakat yang sempurna tersebut yaitu Sosialisme Komunitarian
Humanistik. Dalam masyarakat semacam itu, setiap orang akan memiliki kesempatan
yang sama untuk menjadi mansiawi sepenuhnya.
Aplikasi
1. Sosialisme,
komunitarian humanistik
Sebagai seorang kritisi
sosial, persoalan hubungan dengan masyarakat menjadi perhatian utama Fromm.
Fromm mempunyai empat proposisi mengenai hubungan ini :
a. Manusia
mempunyai kodrat esensial sosial bawaan
b. Masyarakat
diciptakan manusia untuk memenuhi kodrat esensial bawaan ini
c. Tidak
satupun bentuk masyarakat yang pernah diciptakan manusia berhasil memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensi manusia
d. Adalah
mungkin menciptakan masyarakat semacam itu.
Masyarakat yang
disarankan Fromm adalah Sosialisme, komunitarian humanistic, masyarakat dimana
orang-orang bergaul dengan cinta yang berakar dalam hubungan persaudaraan adlam
solidaritas.
2. Karakter
masyarakat
Tahun 1957, Fromm
melakukan penelitian di sebuah desa di Meksiko. Ada dua kesimpulan penting
mengenai karakter masyarakat. Pertama,
ternyata masyarakat memiliki tiga jenis karakter yaitu :
a. Productif-boarding
b. Nonproductif-receptive
c. Productive
exploitative.
Kedua, dari perkembangan karakter masyarakat itu
dapat disimpulkan bahwa karakter pribadi dan karakter sosial berhubungan timbal
balik.
3. Psikoterapi
Fromm mengembangkan
sistem terapi sendiri yang dinamakannya psikoanalisis humanistik. Dibanding
dengan psikoanalisis Freud, Fromm lebih peduli dengan aspek interpersonal dari
hubungan terapeutik. Menurutnya, tujuan klien dalam terapi adalah untuk
memahami diri sendiri.
Kritik
Berangkat
dari pikiran filsafat, kritik yang segera muncul adalah mengenai metodologi
pengembangan teorinya. Cakupan ranah bahasan yang luas membuat struktur
teorinya tidak konsisten. Hampir tidak ada data pendukung ketika teori itu
diformulasi.
E. HENRY
STACK SULLIVAN
Harry
Stack Sullivan, orang Amerika
pertama yang membangun teori personality, percaya bahwa orang-orang
mengembangkan kepribadiannya di dalam konteks sosial. Tanpa orang lain, menurut
Sullivan, orang tdak akan punya kepribadian. "sebuah kepribadian tidak
bisa terisolasi dair relasi interpersonal yang kompleks dimana orang itu hidup
dan berada" (Sullivan, 1953a, p.10). Sullivan mengatakan bahwa pengetahuan
kepribadian manusia hanya bisa didapat melalui studi ilmiah tentang relasi
interpersonal. Teori interpersonalnya menekankan pentingnya bebagai tingkat
perkembangan: infancy, childhood, juvenile era, preadolescence, early
adolescence, late adolescence and dan adulthood. Perkembangan manusia yang
sehat bergantung pada kemampuan seseorang untuk membangun keintiman dengan
orang lain tapi sayangnya, anxiety bisa mengganggu sebuah relasi interpersonal
pada umur berapapun. Mungkin tingkat yang paling penting dalam perkembangan
adalah preadolescence - sebuah periode dimana anak-anak pertama memiliki
kapasitas untuk menjalin hubungan intim tapi belum mencapai umur dimana
hubungan intim mereka dikomplikasikan oleh urusan nafsu. Sullivan percaya bahwa
orang mencapai perkembanganyang sehat ketika mereka bisa mengalami keintiman
dan nafsu terhadap orang lain tersebut.
Tensions
Seperti
Freud dan Jung, Sullivan (1953b) melihat kepribadian sebagai sistem energi.
Energi bisa eksis sebagai Tension (secara potensial sebagai tindakan) atau
sebagai tindakan itu sendiri (Energy Transformation). Energy Transformation
merubah tension menjadi perilaku covert atau overt dan bertujuan memuaskan
kebutuhan dan mengurangi anxiety. Tension adalah potensialitas untuk action
yang mungkin atau tidak mungkin dialami dalam kesadaran. maka, tidak semua
tension dirasakan secara sadar. Banyak tension, seperti anxiety, premonitions,
drowsiness, kelaparan dan sexual excitement adalah setidaknya distorsi parsial
dari kenyataan. Sullivan mengenali dua macam tension: need dan anxiety. Need
biasanya adalah hasil dari action yang produktif, dimana anxiety mengarah ke
perilaku nonproduktif atau disintegratif.
Needs
Need
adalah tension yang dibawa oleh ketidak seimbangan biologikal antara seseorang
dan lingkungan physiochemical, di dalam dan diluar organisme. Kebutuhan adalah
episodik - begitu dipuaskan, mereka secara sementara kehilangan kekuatan, tapi
setelah beberapa waktu, mungkin muncul lagi. Walau kebutuhan-kebutuhan ini
awalnya memiliki komponen biologis, banyak yang berawal dari situasi
interpersonal. Interpersonal need paling dasar adalah tenderness. Seorang bayi
mengembangkan kebutuhan untuk menerima tenderness dari perawat utamanya
(disebut oleh Sullivan sebagai "the mothering one"). Tidak seperti
beberapa kebutuhan lainnya, tenderness membutuhkan tindakan dari setidaknya dua
orang. Contohnya, kebutuhan seorang bayi untuk menerima tenderness mungkin
diekspresikan sebagai tangisan, senyuman, atau coo, dimana kebutuhan sang ibu
untuk memberikan tenderness mungkin dirubah menjadi sentuhan, fondling, atau
holding. Dalam contoh ini, kebutuhan untuk tenderness dipenuhi melalui
penggunaan mulut bayi dan tangan ibunya.
Anxiety
Jenis
kedua dari Tension, Anxiety, berbeda dari tension need dalam arti bahwa anxiety
adalah disjunctive, lebih diffuse dan rancu, dan tidak membutuhkan tindakan
konstan untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau seorang bayi kekurangan makanan
(sebuah need), tindakannya pun jelas; tapi kalau mereka anxious, tidak banyak
yang bisa dilakukan untuk membebaskan dari anxiety tersebut.
Anxiety
memiliki efek delesi pada orang dewasa juga. Anxiety adalah kekuatan disruptif
paling utama yang menghalangi perkembangan relasi interpersonal yang sehat.
Sullivan (1953b) menghubungkan anxiety yang parah dengan hantaman di kepala.
Anxiety membuat orang tidak mampu belajar, menghalangi ingatan, menyempitkan
persepsi dan menghasilkan amnesia lengkap. Anxiety unik diantara tension dalam
arti bahwa anxiety mempertahankan status quo bahkan pada keseluruhan kekurangan
orang. Dimana Tension lainnya menghasilkan tindakan yang mengarah pada
peredaan, anxiety menghasilkan perilaku yang (1) menghindari orang dari belajar
dari kesalahan, (2) membuat orang mengejar keinginan yang kekanak-kanakan untuk
perasaan aman, dan (3) secara umum menjamin bahwa orang tidak akan belajar dari
pengalaman.
Energy transformations
Tension
yang dirubah menjadi tindakan, apakah overt ataupun covert, disebut
transformasi energi. Ini adalah istilah yang rancu yang mengacu pada perilaku
kita yang diarahkan pada pemenuhan need dan mengurangi anxiety - dua tension
utama. Tidak semua transformasi energi adalah tindakan yang jelas dan overt;
banyak mengambil bentuk emosi, pikiran atau perilaku covert yang bisa
disembunyikan dari orang lain.
Dynamisms
Transformasi
energi menjadi terorganisir sebagai pola perilaku tipikal yang
mengkarakteristikan seorang sepanjang hidupnya. Sullivan (1953b) menyebut
perilaku ini sebagai dynamism, sebuah istilah yang berarti sama dengan sifat
atau pola kebiasaan. Dynamism memiliki dua kelas utama: pertama, yang
berhubungan dengan zona spesifik dalam tubuh, termasuk mulut, anus, dan alat
kelamin; dan kedua, yang berhubungan dengan tension. Kelas kedua ini terdiri
dari tiga kategori - Disjunctive, Isolating, Conjunctive. Dinamisme disjungtif
mencakup pola perilaku yang destruktif yang berhubungan dengan konsep
malevolence; Dynamisme isolating mencakup pola perilaku (seperti nafsu) yang
tidak berhubungan dengan relasi interpersonal; dan dinamisme konjunctive
mencakup pola perilaku yag menguntungkan, seperti keintiman dan self-sistem.
Malevolence
Malevolence
adalah dinamisme disjunktif tentang kejahatan dan kebencian, yang
dikarakterisasikan oleh perasaan dari hidup diantara musuh seseorang.
Malevolence berawal pada umur 2 atau 3 tahun ketika tindakan anak yang pada
walanya membawa tenderness maternal dihilangkan, dihiraukan atau mendapat
respon anxiety dan sakit. Ketika orang tua berupaya untuk mengendalikan
perilaku anak mereka dengan memberikan rasa sakit fisik atau perkataaan yang
menghentikan perilaku tersebut, beberapa anak akan belajar untuk menahan
ekspresi akan kebutuhan tendernes dan melindungi diri dengan mangadopsi
perilaku malevolent.
Intimacy
Intimacy
adalah dinamisme yang mengintegrasikan yang biasanya menarik keluar reaksi
saling mengasihi dari pihak yang lain, sehingga mengurangi anxiety dan
kesepian, dua pengalaman yang sangat menyakitkan. Karena intimacy membantu
menghindari anxiety dan kesepian, intimacy adalah pengalaman yang rewarding
yang diinginkan oleh kebanyakan orang yang sehat. (Sullivan, 1953b).
Lust
Di pihak lain, lust adalah tendensi yang mengisolasi, tidak
membutuhkan orang lain untuk memuaskan lust. Lust memanifestasikan diri sebagai
perilaku autoerotik bahkan ketika orang lain menjadi objek lust seseorang. Lust
adalah dinamisme yang sangat kuat pada masa adolescence, dimana pada masa itu,
lust sering mengarah pada pengurangan rasa percaya-diri. Upaya akan aktivitas
yang bernafsu sering ditolak oleh orang lain, yang meningkatkan anxiety dan
mengurangi perasaan harga diri. Bahkan, lust sering kali menghindari relasi
intim, terutama ketika masa adolescence awal ketika lust sering kali disalah
artikan dengan ketertarikan seksual.
Self-Sistem
Selama self-sistem berkembang, orang-orang mulai membentuk
gambaran yang konsisten tentang diri mereka. Kemudian, pengalaman interpersonal
apapun yang dianggap berlawanan terhadap self-regard mereka mengancam keamanan
mereka. Sebagai akibatnya, orang berupaya untuk melindungi diri mereka dari
tension antipersonal dengan cara security operations, yang bertujuan untuk
mengurangi perasaan tidak aman atau anxiety yang muncul dari rasa percaya diri
yang terancam. Orang-orang kadang menolak atau memanipulasi pengalaman
interpersonal yang berlawanan dengan self-regard mereka. Contohnya, ketika
orang-orang yang menganggap dirinya tinggi disebut inkompeten, mereka bisa
memilih untuk menganggap orang yang menghina mereka adalah bodoh, atau, mungkin
hanya bercanda. Sullivan menyebut security operations sebagai "rem yang
kuat akan kemajuan pribadi dan manusia.
Personifications
Pada
awal infancy dan berlanjut pada tahap perkembangan lainnya, orang memiliki
berbagai gambaran akan diri mereka dan lainnya. Gambaran ini, disebut
personifikasi, mungkin cukup akurat, atau karena diwarnai oleh kebutuhan dan
anxiety orang, personifikasi ini mungkin sangat terdistorsi. Sullivan (1953b)
mendeskripsika tiga personifikasi dasar yang berkembang pada masa bayi -
bad-mother, good mother, dan me. Selain itu beberapa anak mendapat
personifikasi iedetik (teman bermain imajiner) pada masa kecilnya.
- Tensions
(potensi untuk mengambil tindakan)
- Needs
(konjungtif; needs membantu mengintegrasikan kepribadian)
- General
needs (memfasilitasikan kesejahteraan keseluruan seseorang)
- Interpersonal
(Tenderness, intimacy, love)
- Physiological
(makanan, oksigen, air, dan seterusnya)
- Zonal
needs (bisa juga memuaskan general needs)
- Oral
- Genital
- Manual
- Anxiety
(disjungtif; menghalangi pemuasan need)
- Energy
Transformations (tindakan Overt atau covert yang dilakukan untuk memuaskan
need atau mengurangi anxiety. Beberapa energy transformations menjadi pola
perilaku relatif konsisten yang disebut dinamisme)
- Dynamism
(sifat atau pola perilaku)
- Malevolence (perasaan hidup di negara musuh)
- Intimacy (Pengalaman terintegrasi yang
ditandakan oleh relasi pribadi yang dekat dengan orang lain yang kurang
lebih memiliki status yang sama)
- Lust (sebuah dinamisme isolating yang
dikarakterisasikan oleh ketertarikan seksual impersonal dengan orang
lain)
- Levels
of Cognition (cara untuk mengalami, membayangkan dan mengarang)
Aplikasi
1. Gangguan
mental
Menurut Sullivan, gangguan mental berasal dari cacat
hubungan interpersonal dan hanya dapat dipahami melalui referensi sosial orang
itu. Sullivan banyak menangani schizophrenia yang dia bedakan menjadi dua
kelompok yaitu schizophrenia yang menunjukkan simtom organic dan schizophrenia
yang akar masalahnya faktor sosial.
2. Psikoterapi
teori Sullivan menunjuk kesulitan hubungan
interpersonal sebagai penyebab gangguan mental, sehingga prosedur terapinya
berpusat pada usaha memperbaiki hubungan interrelasi pasien.
Kritik
Teori Sullivan tidak
dikembangkan berdasarkan data keras, dan tidak banyak pakar yang mencoba
meneliti memakai kerangka teori ini. Padahal sesungguhnya teori ini mempunyai
peluang yang luas untuk diuji karena konsep-konsepnya banyak yang bersifat
teramati dan hanya sedikit mengupas dunia batin yang abstrak. Hal ini mungkin
disebabkan oleh organisasi penulisan yang kurang baik, dan setting Sullivan
yang lebih dekat dengan psikiatri daripada setting akademi universitas.
F.
ERICK ERICKSON
Aliran erik erikson adalah aliran yang menagnut perkembangan
psikososial. Seorang psikoanalisis kelahiran jerman yang merupakan salah
seorang rekan dan lingkungan dalam frued di Vienna. Beliau tidak mendasarkan
teori perkembangan nya pada libido, melain kan pada pengaruh social budaya di
lingkungan individu. Selain itu Erikson masih memakai konsep-konsep naluri.
Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat
berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan
egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran
dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa
Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori
Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena
dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang
sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah
sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental
Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika
dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika
kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar
biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan
jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai
dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa
tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh
pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi
matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan
dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan
genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya
cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk
oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah
sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap
yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses
yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap
“Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan
persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip
epigenetic. Di mana Erikson dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian
kata yaitu : (1) Pada dasarnya
setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari
tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat
dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi,
dalam radius soial yang lebih luas. (2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga
merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru
memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk
mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang
ada.
Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun
1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara
terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan
istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Erikson berdalil bahwa setiap tahap
menghasilkan epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaitu epi
yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang berlangsung, dan genetic
yang berarti “emergence” atau kemunculan. Gambaran dari perkembangan cermin
mengenai ide dalam setiap tahap lingkaran kehidupan sangat berkaitan dengan
waktu, yang mana hal ini sangat dominan dan karena itu muncul , dan akan selalu
terjadi pada setiap tahap perkembangan hingga berakhir pada tahap dewasa,
secara keseluruhan akan adanya fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap
itu sendiri. Selanjutnya, Erikson berpendapat bahwa tiap tahap
psikososial juga disertai oleh krisis. Perbedaan dalam setiap komponen
kepribadian yang ada didalam tiap-tiap krisis adalah sebuah masalah yang harus
dipecahkan/diselesaikan. Konflik adalah sesuatu yang sangat vital dan bagian
yang utuh dari teori Erikson, karena pertumbuhan dan perkembangan antar
personal dalam sebuah lingkungan tentang suatu peningkatan dalam sebuah sikap
yang mudah sekali terkena serangan berdasarkan fungsi dari ego pada setiap
tahap.
Erikson percaya “epigenetic principle” akan mengalami
kemajuan atau kematangan apabila dengan jelas dapat melihat krisis psikososial
yang terjadi dalam lingkaran kehidupan setiap manusia yang sudah dilukiskan
dalam bentuk sebuah gambar (Figure 3-1). Di mana gambar tersebut memaparkan
tentang delapan tahap perkembangan yang pada umumnya dilalui dan dijalani oleh
setiap manusia secara hirarkri seperti anak tangga. Di dalam kotak yang
bergaris diagonal menampilkan suatu gambaran mengenai adanya hal-hal yang
bermuatan positif dan negatif untuk setiap tahap secara berturut-turut. Periode
untuk tiap-tiap krisis, Erikson melukiskan mengenai kondisi yang relatif
berkaitan dengan kesehatan psikososial dan cocok dengan sakit yang terjadi
dalam kesehatan manusia itu sendiri.
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa dengan berangkat dari
teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan
pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan
pada aspek-aspek perkembangan sosial. Melalui teori yang dikembangkannya yang
biasa dikenal dengan sebutan Theory of Psychosocial Development (Teori
Perkembangan Psikososial), Erikson tidak berniat agar teori psikososialnya
menggantikan baik teori psikoseksual Freud maupun teori perkembangan kognitif
Piaget. Ia mengakui bahwa teori-teori ini berbicara mengenai aspek-aspek lain
dalam perkembangan. Selain itu di sisi lain perlu diketahui pula bahwa teori
Erikson menjangkau usia tua sedangkan teori Freud dan teori Piaget berhenti
hanya sampai pada masa dewasa.
Bagi erikson krisis bukan merupakan malapetaka tetapi suatu
titik tolak perkembangan psikososial. Erikson membagi tahapan perkembangan
psikososial menjadi 8 tahap yaitu
1. Kepercayaan
dasar vs ketidak percayaan ( lahir hingga 12-18 bulan)
Bayi mengembangkan prasaan bahwa dunia merupakan empat yang baik dan aman. Jadi bila rasa aman dipenuhi maka anak akan mengembangkan banyak-banyak kepercayaan pada lingkungan. Sebalik nya bila anak selalu terganggu tidak prnah merasakan kasi saying dan rasa aman anak akan mengembangkan prasaan tidak percaya pada lingkungan nya. Contoh nya (si anak sedang bermain dengan teman di lingkungn nya sekitar dia akan percaya dengan omongan teman nya asalkan ada rasa aman. Sebalik nya anak akan menjadi pengecut dan ragu-ragu bila tidak ada rasa aman)
Bayi mengembangkan prasaan bahwa dunia merupakan empat yang baik dan aman. Jadi bila rasa aman dipenuhi maka anak akan mengembangkan banyak-banyak kepercayaan pada lingkungan. Sebalik nya bila anak selalu terganggu tidak prnah merasakan kasi saying dan rasa aman anak akan mengembangkan prasaan tidak percaya pada lingkungan nya. Contoh nya (si anak sedang bermain dengan teman di lingkungn nya sekitar dia akan percaya dengan omongan teman nya asalkan ada rasa aman. Sebalik nya anak akan menjadi pengecut dan ragu-ragu bila tidak ada rasa aman)
2. Autonomi
vs rasa malu dan ragu (12-18 bulan hingga 3 tahun )
Anak mengembangkan
keseimbangan independent dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan.
Contoh nya ( bila sianak di semangati, dipuji, dan diberi dorongan ia akan
percaya diri untuk melakukan sesuatu yang ia yakini, sebalik nya bila si anak
hanya ditanya Tanya saja, atau selalu dip rotes maka ia akan takut dan ragu
untuk mengambil langkah berikut nya
3.
Inisatif vs rasa bersalah ( 3 hingga 6 tahun )
Anak menembangkan
inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani oleh rasa
bersalah. Contoh nya ( jika si anak meeengembangkan prasaan percaya diri dan
mandiri, maka ia akan berani mengambil inisiatif yaitu prasaan bebas untuk
melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri, tetapi sebalik nya apabila pada
tahap sbelum nya ia menembangkan prasaan ragu-ragu maka ia akan selalu merasa
bersalah ia tidak berani melakukan segala sesuatu atas kehendak diri nya)
4.
Industri vs inferioritas( 6 tahun hingga pubertas )
Anak harus belajar
ketrampilan budaya atau menghadapi prasaan kompeten. Contoh nya (Contoh nya (
si a mampu mengerjakan tugas-tugas nya maak ian akan di banggakan di sekolah
atau sering diandalkan. Tapi sebalik nya jika ia selalu di kucilkan ia akan
menggap diri nya selalu tidak ada atau tidak di butuhkan)
5.
Identitas vs kekacauan identitas ( pubertas hingga dewasa awal )
Remaja harus menentukan pemahaman akan diri sendiri. “siapakah saya” atau merasa kekacauan peran. Contoh nya (ia sedang mencari jati diri nya jadi bila ia merasa nyaman dan yakin akan berhasil melawan konlik konflik sebelum nya ia akan tau peran nya sebagai apa . tapi sebalik nya dia akan merasa kekaburan peran ?tidak jelas nya ia sebagai apa jika ia tidak bias melawan masalah sebelum nya yang ada)
Remaja harus menentukan pemahaman akan diri sendiri. “siapakah saya” atau merasa kekacauan peran. Contoh nya (ia sedang mencari jati diri nya jadi bila ia merasa nyaman dan yakin akan berhasil melawan konlik konflik sebelum nya ia akan tau peran nya sebagai apa . tapi sebalik nya dia akan merasa kekaburan peran ?tidak jelas nya ia sebagai apa jika ia tidak bias melawan masalah sebelum nya yang ada)
6.
intimasi vs isolasi ( dewasa awal )
Individu mencoba
membuat komitmen dengan orang lain , apabila ia tidak sukses maka dia akan
menderita isolasi dan pemisahan diri . contoh nya ( si dia sudah berani untuk
berkomitmen menjalin hubungan ini dengan lawan jenis nya tetapi jika sebalik
nya ia akan merasa kacau. Terasingkan karma ia tidak mampu untuk berkomitmen
atau membuat janji )
7.
Produktifitas vs stagnasi ( dewasa tengah )
Perhatian orang
dewasa yang sudah matang adalah membanagun dan membimbing generasi selanjut nya
aatu merasa tidak percaya diri. Contoh nya ( pengalaman si dia dimasa lalu yang
positif sanagt ia harapkan untuk generasi yang akan datang ( berbagi ilmu) tapi
sebalik nya apa bila dalam tahap-tahap yang silam ia memperoleh pengalaman
negative maka ia mungkin terkurung dalam kebutuhan dan personal nya sendiri )
8. Integritas ego vs putus asa ( dewasa akhir )
Individu yang lebih
tua mendapat penerimaan terhadap hidup membuat nya dapat menerima kematian atau
sebalik nya putus asa atas ketidak mampuan nya menghidupkan kembali hidup nya.
Contoh nya ( kepuasan si dia akan prestasi nya dan tindakan-tindakan nya dimasa
lalu akan meeenimbulkan prasaan puas ,bangga, percaya atas kemampuan nya tapi
sebalik nya jika semuanya merasa belum siap ? gagal akan ada timbul kekecewaan
yang mendalam putus asa dan menyesali kekurangan atas diri nya )
Aplikasi
Teori Erikson terfokus pada perkembangan sosial, sehingga aplikasinya
terutama di bidang pendidikan sosial, khususnya pada usia anak-anak dan remaja.
Memperhatikan teori Erikson akan berdampak pada perlakuan orang dewasa terhadap
anak lebih sesuai dengan kebutuhan usia anak-anak itu. Konsep krisis identitas
ternyata aplikatif untuk menginterpretasi lima ranah sumber krisis pemuda,
yaitu :
1.
Problem
pilihan pekerjaan
2.
Konflik
dengan orang tua
3.
Keanggotaan
kelompok sebaya
4.
Hubungan
cinta remaja
5.
Penggunaan
obat psikotropika
Di bidang psikoterapi, analisis konflik sosial dapat menbantu pemahaman kepribadian
klien, namun Erikson tidak mengusulkan treatment yang khas sesuai dengan focus
teori psikososialnya.
Di bidang pengukuran, Erikson mengembangkan Play Construction Test dan
Rosenthal bersama-sama dengan Gurney dan Moore mengembangkan Erikson Psychososial
Stage Inventory (EPSI).
a.
Play
Construction Test
Anak (usia bermain dan sekolah), diminta membayangkan
dirinya menjadi sutradara dan membuat adegan film yang menarik, memakai mainan
yang disediakan. Mainan itu meliputi orang, binatang, peralatan rumah tangga,
mobil, rumah, dan apa saja yang diimajinasikan anak. Memakai peralatan
audiovisual, scenario anak itu dianalisis sebagai ekspresi sejarah kehidupannya
secara taksadar.
b.
Erikson
Psychososial Stage Inventory (EPSI)
Kuesioner dengan 72 item, mengungkap keberhasilan anak
mengatasi enam tahap (dari bayi sampai dengan dewasa muda) konflik
psikososialnya. EPSI mengukur tingkat kepercayaan, otonomi, inisiatif,
ketekunan, identity dan intimasi dalam skala 1-5.
Kritik
Psikososial dari Erikson dikembangkan dalam kerangka psikoanalitik,
menekankan pentingnya psikologi ego, perubahan perkembangan sepanjang hayat dan
pemahaman kepribadian melalui latar belakang sosial dan kekuatan-kekuatan
historic. Berlawanan dengan Freud, Erikson memandang ego sebagai struktur
kepribadian otonom dan teorinya terfokus pada kualitas ego yang muncul pada
setiap periode perkembangan.
Erikson membangun teorinya terutama memakai prinsip-prinsip etika yang
tidak selalu didukung data ilmiah. Dalam hal ini Erikson cenderung konservatif,
dalam arti bahwa manusia itu berkembang dalam kerangka budaya yang ada, bahwa
perkembangan seharusnya tidak bertentangan dengan etik, moral, dan ritualisasi
yang diterima masyarakat secara luas. Dalam hal metodologi, nilai ilmiah dari
metodologinya sesungguhnya ada pada beberapa metode pengukuran yang dia
lakukan, observasi terhadap anak-anak, dan analisa kesejarahan. Sayang
data-data yang dikumpulkannya, termasuk data observasi dideskripsi secara
subjektif, dan dianalisis secara subjektif pula.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Neo-Freudian adalah sekelompok ahli teori Amerika yang
tergabung dari pertengahan
abad kedua puluh, yang semuanya
dipengaruhi oleh Sigmund Freud. Tetapi teori-teori Freud tersebut telah diperpanjang seiring dengan arah sosial atau budaya. Mereka
telah didefinisikan sebagai 'penulis Amerika yang mencoba untuk menyajikan kembali teori Freud dalam hal sosiologis
dan untuk menghilangkan hubungannya
dengan biologis
Tokoh-tokoh
dalam Neo-Freudian antara lain, Carl Jung, Alfred Alder, Erich Fromm, Karen
Horney, Henry Sullivan, Erick Erickson.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang:UMM Press
Koeswara. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. CV.
Jakarta:Rajawali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar