BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial kita selalu berhubungan dengan
orang lain. Dalam menjalani hubungan tersebut, selalu saja kita ingin tahu
tentang apa saja yang dikerjakan oleh orang lain. Keingintahuan ini tidak hanya
kepada orang-orang terdekat kita saja tetapi juga meliputi mereka yang ada di
sekitar kita atau juga orang-orang terkenal, juga mereka-mereka yang memiliki
keistimewaan yang berbeda dengan kita. Rasa ingin tahu adalah bagian dari hidup
dimana kita semua merasakan.
Sebagaimana yang kita ketahui, salah
satu ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia adalah psikologi sosial.
Akan tetapi, sebelum psikologi sosial muncul, ilmu khusus yang memperlajari
tingkah laku manusia dalam lingkungan sosialnya adalah antropologi dan
sosiologi. Psikologi sosial sendiri baru muncul sekitar seratus tahun yang lalu
(Mc. Dougall, 1908; Ross, 1908).
Adapun psikologi sosial
lebih menekankan pada tingkah laku manusia sebagai individu. Sebagai ilmu yang
relatif baru dalam perkembangannya banyak menggunakan materi-materi yang sudah
ada dalam disiplin ilmu sosiologi dan antropologi. Karena itu, peranan antropologi dan
sosiologi dalam psikologi sosial antara lain adalah untuk mengurangi atau
setidak-tidaknya menjelaskan penyimpangan yang terdapat dalam penelitian
psikologi sosial sebagai akibat pengaruh kebudayaan dan kondisi masyarakat
disekitar manusia yang diteliti.
Sasaran penelitian psikologi sosial
sendiri adalah tingkah laku manusia sebagai individu. Inilah yang membedakan
psikologi sosial dari antropologi dan sosiologi yang mempelajari tingkah laku
manusia sebagai bagian dari masyarakatnya. Fokus
kajian psikologi sosial lebih bertitik tolak pada manusia sebagai individu yang
membina hubungan-hubungan sosial di masyarakat, misalnya persepsi, motivasi dan
sikap, dan berusaha memahami proses-proses yang mempengaruhi kelangsungan dan
keseragaman jenis maupun bentuk hubungan sosial seperti kepemimpinan, kerja
sama, dan konflik.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa objek studi dalam psikologi sosial lebih menitik beratkan pada
semua kondisi psikologis individu dalam masyarakat, dalam hal ini berusaha
melihat hubungan yang ada antara berbagai kondisi sosial dengan kondisi
psikologis individu dalam masyarakat. Kondisi sosial adalah semua aspek yang
ada dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi individu. Dalam kehidupan
sehari-hari individu akan selalu berhubungan dengan orang lain yang dikenal
sebagai interaksi sosial yang merupakan proses saling mempengaruhi.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa
itu psikologi sosial?
2. Bagaimana
sejarah dari psikologi sosial?
3. Apa
yang menjadi ruang lingkup psikologi sosial?
4. Apa
tujuan dari psikologi sosial?
5. Bagaimana
pendekatan dalam psikologi sosial?
1.3
Tujuan
Pembahasan
1. Menjelaskan
pengertian psikologi sosial
2. Menjelaskan
bagaimana sejarah psikologi sosial
3. Menjelaskan
ruang lingkup psikologi sosial
4. Menjelaskan
tujuan psikologi sosial
5. Menjelaskan
pendekatan dalam psikologi sosial
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Psikologi Sosial
Psikologi
sosial merupakan usaha sistematik untuk mempelajari perilaku sosial (social behavior). Hal ini berkaitan
dengan bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana kita
bereaksi terhadap orang lain dan bagaimana mereka bereaksi terhadap kita, dan
secara umum bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial. (Sears, 1985).
Sama
halnya dengan pengertian psikologi pada umumnya (psikologi umum) yang
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya
dengan lingkungannya (Sarwono, 1991), psikologi sosial pun, sebagai salah satu
cabang psikologi, mempelajari perilaku manusia, khususnya dalam kaitannya
dengan lingkungan sosialnnya. Dengan mempelajari perilaku sosial, diharapkan
dapat diterangkan mengapa seseorang berperilaku secara tertentu dalam situasi
sosial tertentu, jika perilaku tertentu itu akan terjadi dan bagaimana (jika
mungkin) mengubah atau mempengaruhi perilaku itu sehingga dapat lebih sesuai
dengan yang diharapkan. Jadi, psikologi sosial, selain merupakan ilmu teoritik
(sebagaimana ilmu pada umumnya), juga merupakan ilmu terapan (Sarwono, 1997)
Untuk memahami lebih lanjut mengenai psikologi
sosial, maka berikut ini akan dikemukakan berbagai definisi tentang psikologi
sosial sebagaimana yang ditulis oleh para peneliti dalam berbagai buku tentang
psikologi sosial (Sarwono, 1997)
a.) Sherif & Muzfer, 1956
Psikologi sosial adalah ilmu tentang
pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus
sosial.
b.) Krech, Cructhfield & Ballachey
(1962)
Psikologi sosial adalah ilmu tentang
peristiwa perilaku hubungan interpersonal (antarpribadi)
c.) Watson, 1966
Psikologi sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia
d.) Dewey & Huber, 1966
Psikologi sosial adalah studi tentang manusia individual
ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik, dengan lingkungannya.
e.) Jones & Gerrard, 1967
Psikologi sosial adalah subdisiplin dari psikologi yang
mengkhususkan diri pada studi ilmiah tentang perilaku individual sebagai fungsi
rangsangan (stimulus) sosial.
f.) McDavid & Harari, 1968
Psikologi sosial adalah studi ilmiah tentang pengalaman dan
perilaku individual dalam kaitan dengan individu lain, kelompok, dan
kebudayaan.
g.) Shaw & Costanzo, 1970
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
perilaku individual sebagai fungsi rangsang-rangsang sosial.
h.) Baron & Byrne, 1994
Psikologi sosial adalah bidang ilmiah yang mencari
pengertian tentang hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan pikiran-pikiran
individu dalam situasi sosial.
Berdasarkan pengertian dari para ahli tentang psikologi sosial
diatas, maka ada dua istilah yang digunakan para ahli untuk menggambarkan
Psikologi sosial, yakni “ilmu pengetahuan” dan “individu”. Ilmu
pengetahuan yang dimaksud disini adalah menjelaskan bahwa psikologi sosial
mempelajari suatu gejala dalam kondisi yang terkontrol. Spekulasi-spekulasi
yang hanya didasarkan pada perkiraan-perkiraan saja tidak berlaku untuk
menyusun hukum-hukum maupun teori-teori psikologi sosial. Sedangkan penggunaan
istilah individu dalam definisi di atas menunjukkan bahwa unit analisa dari
psikologi lebih dititik beratkan pada individu, bukan pada masyarakat secara
keseluruhan ataupun kebudayaan dari masyarakat tertentu. Sedangkan yang
dimaksud dengan rangsangan-rangsangan sosial yang ada di sekitar individu, termasuk
dalam karya-karya manusia ini antara lain adalah norma-norma, kelompok sosial
dan produk-produk sosial lainnya.
Pendapat
para tokoh tentang pengertian psikologi sosial memang sangat beragam. Namun
demikian tidaklah berarti antara yang satu dengan yang lainnya saling
bertentangan. Perpaduan diantara pendapat tersebut akan dapat saling melengkapi
dan menyempurnakan. Rangkuman pengertian dari berbagai pendapat tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut: “Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang
pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi
sosial.” Dengan demikian membicarakan psikologi sosial tidak dapat dilepaskan dari
pembicaraan individu yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial.
2.2
Sejarah
Singkat Psikologi Sosial
Disiplin psikologi sosial yang belum
tertata secara mapan sebagai ilmu empiris tersendiri seperti sekarang ini sudah
ada sejak zaman Yunani klasik sebagai bagian dari kajian disiplin ilmu
filsafat. Tokoh-tokoh filsafat Yunani klasik yang dapat dikategorikan sebagai
pemikir metafisika rasional psikologi sosial adalah Plato dan Aristotles.
Perkembangan lanjutan psikologi sosial dapat ditemui pada pemikir filsuf
Prancis dan bapak ilmu sosiologi Auguste Comte yang hidup pada abad kesembilan
belas Masehi (Cooper, 1996). Auguste Comte juga dapat dipandang sebagai salah
satu peletak dasar perkembangan psikologi sosial empiris yang lahir pada abad
kedua puluh Masehi.
Sebagai ilmu empiris yang berdiri
sendiri, kelahiran psikologi sosial ditandai dengan dipublikasikannya dua buku
psikologi sosial yaitu Introduction to Social Psychology (Pengantar
Psikologi Sosial) yang ditulis oleh pakar ilmu psikologi William McDougall pada
tahun 1908 dan Social Psychology (Psikologi Sosial) yang ditulis oleh
pakar ilmu sosiologi A. Ross pada tahun yang sama (Stephan dan Stephan, 1990).
Selain itu, pada tahun 1924, Floyd Allport (dalam Baron dan Byrne, 2004)
menulis sebuah buku yang berjudul Social Psychology. Dalam buku ini
Floyd Allport memberikan deskripsi tentang topik-topik penelitian yang
berhubungan dengan perilaku sosial, yaitu topik konformitas sosial, topik
kemampuan individu dalam memahami emosi orang lain, dan topik pengaruh audiens
terhadap kinerja penyelesaian tugas.
Pada saat terjadi Perang Dunia II
banyak para ahli psikologi di Amerika Serikat dan Eropa termasuk ahli psikologi
sosial yang terlibat dalam perang dan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan
psikologi mereka untuk upaya-upaya memenangkan perang. Setelah mengalami
kemandekan yang cukup signifikan akibat terjadinya Perang Dunia II,
perkembangan psikologi sosial menunjukkan perkembangan lebih lanjut pada
periode pertengahan 1940-an yang ditunjukkan mulai dilakukan penelitian
terhadap pengaruh kelompok pada perilaku individu, hubungan ciri-ciri
kepribadian, perilaku sosial, pengembangan teori disonansi kognitif oleh Leon
Festinger tahun 1957.
Setelah Perang Dunia berakhir,
seorang pakar psikologi sosial yang jenius, Kurt Levin mempelopori pengembangan
psikologi sosial ke arah bidang-bidang yang lebih terapan (Hanurawan dan
Diponegoro, 2005). Berdasarkan ide Kurt Lewin untuk mengembangkan psikologi
sosial ke arah yang lebih bermanfaat secara langsung bagi kesejahteraan
manusia, maka kemudian didirikan organisasi yang disebut dengan Society for
the Psychological Study of Social Issues (Masyarakat untuk Studi Psikologis
tentang Isu-isu Sosial) (Sadava, 1997).
Pada periode 1960-an, para pakar
psikologi sosial mulai mengarah perhatiannya pada topik persepsi sosial,
agresi, kemenarikan dan cinta, pengambilan keputusan dalam kelompok, dan
membantu orang lain yang membutuhkan. Pada periode 1970-an pakar psikologi
sosial mengembangkan topik-topik baru berhubungan dengan perilaku diskriminasi
jenis kelamin, proses atribusi, dan perilaku lingkungan. Pada periode 1990-an
para pakar psikologi sosial mulai mengembangkan secara lebih nyata aspek
terapan teori-teori psikologi sosial seperti bidang kesehatan, bidang media,
proses hukum dan perilaku organisasi.
2.3
Ruang
Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi Sosial yang menjadi objek
studinya adalah segala tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau
lingkungan sosialnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari adalah
pengaruh sosial atau perangsang sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial
inilah yang mempengaruhi tinghkah laku individu. Berdasarkan inilah psikologi
sosial membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu
dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial.
Objek pembahasan dari psikologi
sosial tidaklah berbeda dengan psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami
karena psikologi sosial adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila
objek pembahasan psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka psikologi
sosial adalah kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi
umum adalah gejala-gejala jiwa seprerti perasaan, kemauan, dan berfikir yang
terlepas dari alam sekitar. Sedangkan dalam psikologi sosial masalah yang
dikupas adalah manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan individu
dengan individu yang lain dalam kelompoknya, hubungan persahabatan, juga
tentang ketertarikan, cinta, hubungan dengan media sosial dan lain sebagainya.
Psikologi sosial dalam membicarakan
objek pembahasannya dapat pula bersamaan dengana sosiologi. Masalah-masalah
sosial yang dibicarakan dalam sosiologi adalah kelompok-kelompok manusia dalam
satu kesatuan seperti macam-macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan
macam-macam kepemimpinannya. Sedangakan dalam psikologi sosial adalah meninjau
hubungan individu yang satu dengan yang lainnya seperti bagaimana pengaruh
terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota, dan pengaruh terhadap kelompok
lainnya.
Persamaaaan-persamaan pembahasan
sebagaimana penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pembahasan
psikologi sosial berada pada ruang antara psikologi dan sosiologi. Titik
persinggungan inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan
memunculkan ilmu baru dalam lapanagn psikologi, yakni psikologi sosial. Psikologi
sosial merupakan bagian dari psikologi yang secara khusus mempelajari tingkah
laku manusia atau kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan
situasi-situasi sosialnya. (Ahmadi, 2002).
Shaw & Costanzo
membagi ruang lingkup Psikologi Sosial dalam 3 wilayah studi, yaitu:
1.
Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses
individu, misalnya: studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi
(sifat).
2.
Studi tentang proses-proses individual bersama,
seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru, dan lainnya.
3.
Studi tentang interaksi kelompok, misalnya
kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, dan
konflik.
Psikologi yang dipelajari secara
praktis dapat dipraktekan dalam bermacam-macam bidang, misalnya dalam bidang pendidikan,
dalam bidang indrusti atau perusahaan dan sebagainya. Psikologi yang berusaha
mempelajari jiwa manusia, ternyata banyak mendapat kesulitan, hal ini
dikarenakan objek penyelidikannya yang abstrak, yang tidak dapat diselidiki
secara langsung, tetapi diselidiki keaktifannya yang terlibat melalui
manifestasi tingkah laku atau perbuatan. Dapat dimisalkan ketika kita
mempelajari tentang angin, objeknya sendiri secara langsung tidak dapat
dilihat, namun dari keaktifannya, bila ada daun yang bergerak atau debu
beterbangan, maka jelas angin itu ada, seperti itu pulalah bila kita
mempelajari jiwa. Jadi dalam mempelajari psikologi ini, kita akan membatasi
diri pada tingkah laku manusia.
2.4
Tujuan
Psikologi Sosial
Sama
halnya tujuan dalam bidang-bidang yang lain, tujuan pembelajaran psikologi sosial
bertumpu pada tujuan yang lebih tinggi. Secara hirarki, tujuan Pendidikan
Nasional pada tataran operasional dijabarkan dalam tujuan institusioanl tiap
jenis dan jenjang pendidikan. Selanjutnya pencapaian tujuan institusional ini,
secara praktis dijabarkan dalam tujuan kurikuler atau tujuan mata pelajaran.
Akhirnya tujuan kurikuler ini, secara praktis operasional dijabarkan dalam
tuuan instruksional atau tujuan pembelajaran. Tujuan kurikuler psikologi sosial
yang harus dicapai sekurang-kurangnya meliputi lima tujuan yaitu sebagai
berikut:
1. Membekali peserta didik dengan
pengetahuan psikologi sosial sehingga tidak terpengaruh atau tersugesti oleh
situasi sosial yang tidak selamanya bernilai baik.
2. Membekali peserta didik dengan
kemampuan mengidentifikasi, menganalisa dan menyusun alternatif pemecahan
masalah-masalah sosial secara tetap dan sisitematis mengenai proses kejiwaan
yang berhubuunagn dengan kehidupan bersama.
3. Membekali peserta didik dengan
kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat sehingga memudahkan
dalam melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan dan pengarahan kepada
tujuan dengan sebaik-baiknya.
4. Membekali peserta didik dengan
kesadaran terhadap lingkungan sosial sehingga mampu merubah sifat dan sikap
sosialnya.
5. Membekali peserta didik dengan
kemampuan mengembangkan pengetahuan dan ilmu psikologi sosial sesuai dengan
perkembangan kehidupan, perkembanagn masyarakat, perkembanagn ilmu, dan
perkembangan teknologi.
2.5
Pendekatan
Psikologi Sosial
Psikologi
sosial berusaha memahami: masalah pembentukan kesan, konformitas, perubahan
sikap, agresi, kepatuhan, dan perilaku menolong. Pada umumnya, psikologi sosial
mulai dengan pembahasan seseorang mempresepsi orang lain, bagaimana dia
mengartikan perilaku orang lain, serta bagaimana ia membentuk dan mengubah
sikapnya. Psikologi sosial berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku
dalam kelompok dan bagaimana kelompok mempengaruhi anggotanya.
Sebenarnya
ada banyak bidang lain yang berkaitan dengan masalah ini. Para ahli sosiologi,
geografi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan ahli psikologi lain memiliki
kaitan dengan perilaku sosial. Tapi tetap saja ada perbedaan dari pendekatan
psikologi sosial dengan ilmu yang lain. Ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan
analisis kemasyarakatan – mereka
mempergunakan faktor-faktor kemasyarakatan secara luas untuk menjelaskan
perilaku sosial. Orang melakukan perilaku tertentu karena adanya faktor
ekonomis, historis, atau kekuatan sosial seperti konflik antarkelas, pertentangan
antarkelompok etnis yang saling bersaing, hasil penen suatu daerah, institusi
pemerintahan, atau perubahan teknologi dalam bidang ekonomi. Ahli psikologi
klinis dan kepribadian mempergunakan analisis individual – mereka mempergunakan karakteristik individu yang unik
untuk menjelaskan perilaku. Secara khusus mereka mempergunakan konflik dan ciri
kepribadian seseorang yang unik untuk menjelaskan mengapa orang itu berperilaku
yang agak berbeda dalam setiap situasi. Ahli psikologi sosial mempergunakan
tingkat analisis yang terletak di antara kedua kutub tersebut yang disebut interpersonal. Mereka menjelaskan
perilaku berdasarkan situasi interpersonal atau sosial yang terjadi. Situasi
sosial itu dapat meliputi orang lain di lingkungan, sifat dan perilaku mereka,
keadaan di mana perilaku itu terjadi dan sebagainya.
Psikologi
sosial lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap
situasi sosial yang terjadi. Psikologi sosial mempelajari perasaan subjektif
yang biasanya muncul dalam situasi sosial tertentu dan bagaimana perasaan itu
mempengaruhi perilaku. Pendekatan psikologi sosial biasanya juga menyangkut
perasaan-perasaan subjektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang
kemudian mempengaruhi perilaku individu. Contohnya perasaan frustasi seseorang
yang menimbulkan kemarahan, yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku
agresif. (Sears, 1985).
a.
Pendekatan
Biologis
Naluri
Ada yang berpendapat bahwa manusia
memiliki naluri untuk menjadi agresif. Konard Lorenz dan juga ahli lain
mengemukakan pendapat bahwa dorongan agresif ada di dalam diri manusia sejak
lahir dan tidak dapat diubah. Dengan istilah yang agak berbeda, teori
Psikoanalisis Freud juga menyatakan adanya dorongan bawaan yang mengarahkan
manusia untuk melakukan perilaku yang bersifat merusak (meskipun Freud
berpendapat bahwa dorongan bawaan itu dapat diarahkan pada perilaku yang
bersifat tidak merusak). Pemikiran bahwa agresi bersifat naluriah tidak banyak
membantu usaha memahami mengapa seseorang bertindak agresif sedangkan orang
lain mungkin tidak akan bertindak seperti itu sekalipun memiliki situasi yang
sama. Tetapi bagaimanapun juga pandangan ini merupakan salah satu cara
memandang perilaku manusia.
Perbedaan
Genetik
Pandangan kedua dalam pendekatan
biologis memusatkan perhatiannya pada pemahaman tentang bagaimana perbedaan
genetik menimbulkan perbedaan perilaku. Sebagian orang mungkin karena
alasan-alasan genetik, lebih agresif daripada orang lain. Pandangan yang
berkaitan dengan pendekatan biologis mempergunakan faktor-faktor fisiologis
yang lain, seperti ketidakseimbangan hormonal atau kerusakan otak, untuk
menjelaskan masalah agresivitas. Pemikiran yang umum adalah bahwa penyebab
semua perilaku termasuk perilaku sosial dapat diketahui dari sifat biologis seseorang
– dari susunan genetik, dari karakteristik bawaan, dari karakteristik fisik
yang berkembang sejak lahir, atau dari pertumbuhan fisik sementara seperti yang
disebabkan oleh produksi hormone atau perangsang otak. Sampai sekarang
pendekatan ini memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap psikologi sosial.
Para ahli psikologi sosial beranggapan hanya sedikit mekanisme perilaku bawaan
atau naluriah yang ada di dalam diri manusia. Dan mekanisme yang ada itu
nampaknya tidak memiliki pengaruh yang besar dibandingkan faktor-faktor sosial.
b.
Pendekatan
Belajar
Selama beberapa tahun, pendekatan yang
dominan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan
belajar. Pokok pemikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang
telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang memperlajari
perilaku tertentu sebagai kebiasaan, dan bila menghadapi situasi itu kembali,
orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu.
Misalnya, bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menjabatnya, karena
itulah yang telah kita pelajari untuk menanggapi uluran tangan itu. Pendekatan
dengan belajar menjadi populer di tahun 1920-an dan merupakan dasar
Behaviorisme. Mula-mula Pavlov dan John B. Watson menjadi pendukungnya yang
paling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F Skinner. Neal
Miller dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial
dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan
yang disebut Social Learning Theory.
Mekanisme
Belajar
Ada tiga mekanisme umum yang terjadi
dalam belajar. Yang pertama adalah asosiasi, atau classical conditioning. Anjing Pavlov belajar mengeluarkan air liur
pada saat bel berbunyi karena sebelumnya disajikan daging tiap saat terdengar
bunyi bel. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila
terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan daging, karena anjing itu
mengasosiasikan bel dengan daging. Mekanisme belajar yang kedua adalah reinforcement. Orang belajar menampilkan
perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan
dan dapat memuaskan kebutuhan (atau karena mereka belajar menghindari perilaku
yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang mahasiswa mungkin
belajar untuk tidak menentang sang profesor di kelas karena setiap kali dia
melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah dan
membentaknya kembali. Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari
sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model.
Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru
bagaimana ibunya melakukan hal itu.
Ciri-ciri Khusus
Pendekatan belajar mempunyai tiga ciri
khusus yang membedakannya dengan pokok pemikiran lain dalam psikologi sosial.
Pertama, sebab-sebab perilaku diduga terletak terutama pada pengalaman belajar
individu di masa lampau. Para ahli teori belajar mengaitkan diri pada
pengalaman masa lalu dan kurang memperdulikan seluk beluk situasi yang sedang
terjadi. Kedua, pendekatan belajar cenderung menempatkan penyebab perilaku
terutama pada lingkungan eksternal dan tidak pada pengartian subjektif individu
terhadap apa yang terjadi. Sebagai sebab-sebab terjadinya perilaku pendekatan
belajar tidak menekankan keadaan subjektif seperti misalnya persepesi terhadap
situasi atau emosi. Ketiga, biasanya pendekatan belajar diarahkan untuk
menjelaskan perilaku yang nyata dan bukan keadaan subjektif atau psikologis.
c.
Pendekatan
Insentif
Pendekatan umum yang ketiga memandang
perilaku sebagai suatu insentif yang tersedia bagi bermacam-macam tindakan.
Orang bertindak berdasarkan keuntungan dan kerugian yang mereka peroleh dari
setiap perilaku. Analisa insentif benar-benar mempertimbangkan hal-hal yang
mendukung dan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku tertentu dan
berdasarkan hal itu meramalkan bagaimana seseorang akan berperilaku.
Teori-teori
utama
Pada
umumnya ada tiga versi teori insentif yang berbeda dalam psikologi sosial,
yaitu:
1. Pilihan
rasional, atau rational decision making
theory. Teori ini mengemukakan bahwa orang memperhitungkan kerugian dan
keuntungan berbagai tindakan, serta secara rasional mengambil alternatif yang
paling baik. Mereka memilih mana tindakan yang memberikan keuntungan sebesar
mungkin dan kerugian sekecil mungkin.
2. Teori
pertukaran. Teori ini menganalisis interaksi interpersonal sebagai rangkaian
keputusan rasional yang dibuat orang. Dalam hal ini perilaku seseorang terhadap
orang lain dianggap berdasarkan pertimbangan untung-rugi setiap pihak, yang
timbul dari berbagai kemungkina sebagai interaksi.
3. Pemuasan
kebutuhan. Teori ini menyatakan bahwa individu memiliki kebutuhan atau motif
spesifik tertentu dan berperilaku sedemikian rupa untuk memuaskan kebutuhan
itu.
Versi-versi teori insentif ini agak
berbeda dalam mengungkapkan gambaran sifat manusia. Teori pilihan rasional dan
teori pertukaran melukiskannya sebagai pemilih yang pemenuh perhitungan, cukup
ilmiah. Sedangkan versi pemuasan kebutuhan menggambarkannya sebagai seorang
impulsif yang terutama didorong oleh kekuatan internal. Tetapi ketiga versi ini
terfokus pada situasi yang sama: seseorang diharapkan pada usaha memilih satu
di antara beberapa alternative perilaku dan dia harus mengambil keputusan
berdasarkan besarnya keuntungan dan kerugian yang akan dialami dalam setiap
alternatif.
Bagaimanapun juga, semua versi
analisa insentif ini memiliki satu hal penting yang membedakannya dengan
pendekatan belajar. Versi-versi itu berkaitan dengan kerugian dan keuntungan
dari kemungkinan tanggapan dalam situasi yang terjadi pada saat itu, bukan
berupa kebiasaan yang dipelajari pada masa lalu. Oleh sebab itu, sebab-sebab perilaku
terletak pada situasi sekitar yang terjadi saat itu. Selain itu, analisis
intensif lebih banyak berkaitan dengan keadaan insentif dan tidak hanya
terhadap lingkungan eksternal. Presepsi kita terhadap situasi, perasaan positif
atau negative kita terhadap sesuatu itu, ekspresi kita tentang akibat setiap
alternative tindakan, harapan dan ketakuan kita, merupakan hal-hal pokok dalam
analisis insentif.
d.
Pendekatan
Kognitif
Pokok pikiran utama pendekatan kognitif
dalam psikologi sosial adalah perilaku seseorang tergantung pada caranya
mengamati situasi sosial. Secara spontan dan otomatis orang mengorganisasikan
persepsi, pikiran, dan keyakinannya tentang situasi sosial ke dalam bentuk yang
sederhana dan bermakna. Tidak peduli bagaimana kacau atau rancunya situasi,
orang akan selalu mengadakan pengaturan. Dan organisasi ini, persepsi dan
perhatian lingkungan ini mempengaruhi perilaku kita dalam situasi sosial.
Prinsip-prinsip
Dasar
Pertama, kita cenderung
mengelompokkan objek berdasarkan beberapa prinsip yang sederhana, seperti kesamaan (piring nampak lebih mirip satu
sama lain daripada kulkas dan kompor, sehingga kita mengelompokkan
piring-piring itu sebagai suatu kesatuan), kedekatan
(buku-buku yang tersusun dalam jajaran akan dilihat sebagai suatu kesatuan,
buku-buku yang bertebaran di meja perpustakaan tidak akan dilihat sebagai suatu
kesatuan), atau pengalaman masa lalu
(meja dan kursi dianggap sebagai suatu kesatuan, demikan pula Daud dan Goliat,
tetapi kompor dan kursi tidak dianggap kesatuan).
Kedua, kita akan mengamati sesuatu
sebagai hal yang menyolok (figure)
dan yang lain sebagai latar belakang (ground).
Biasanya rangsangan yang berwarna, bergerak, bersuara, unik, dekat, merupakan
figure. Sedangkan rangsangan yang lembut, tidak menarik, tidak bergerak, tidak
bersuara, umum, jauh, merupakan ground.
Prinsip pengelompokan dan pemusatan
perhatian pada rangsang yang paling menyolok merupakan ciri-ciri persepsi yang
bersifat otomatis dan berupa suatu kebiasaan yang hamper tidak mungkin
dihindari untuk digunakan.
Menginterprestasikan
Aspek Kepribadian yang Tidak Jelas
Pendekatan kognitif juga penting
untuk menginterprestasi aspek-asperk yang tidak jelas dalam diri seseorang,
hal-hal yang tidak dapat dilihat, didengar, diraba atau dicium seperti misalnya
tujuan, motif, sikap dan ciri keperibadian. Pendekatan kognitif dalam psikologi
sosial penting untuk memahami bagaimana kita membuat keputusan tentang
sifat-sifat pokok seseorang. Bila kita mengamati adanya komentar yang tidak
menyenangkan atau bila seseorang tidak mau bertemu pandang dengan kita, kita
cenderung menyimpulkan bahwa dia tidak menyukai kita.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
§ Psikologi sosial adalah suatu studi
ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya
dengan situasi sosial.
§ Psikologi
sosial membahas perilaku sosial secara unik. Psikologi sosial menekankan
faktor-faktor situasi sosial yang terjadi, yang mengundang tanggapan umum yang
sama dari semua orang.
§ Ada
beberapa pendekatan teoritis umum terhadap psikologi sosial, yang tidak perlu
saling dipertentangkan. Setiap pendekatan berguna untuk mencoba memahami
beberapa gejala, dan mungkin kurang dapat digunakan untuk memahami gejala
lainnya.
§ Pendekatan
biologis mencari sebab perilaku dalam karakteristik bawaan atau mekanisme
fisiologik.
§ Teori
atau pendekatan belajar menekankan pada pengalaman masa lalu seseorang; teori
ini menganalisis perilaku yang terjadi berdasarkan apa yang telah dipelajari
pada masa lalu.
§ Ahli
teori insentif percaya bahwa orang bertindak untuk memperbesar keuntungan dan
memperkecil kerugian.
§ Pendekatan
kognitif memandang perilaku sebagai sesuatu yang terutama ditentukan oleh
persepsi seseorang terhada situasi sosial.
3.2 Saran
Bagi para pembaca,
semoga tidak terpengaruh situasi sosial yang
tidak selamanya bernilai baik, serta mampu mengidentifikasi, menganalisa dan
menyusun alternatif pemecahan masalah-masalah sosial secara tetap dan
sisitematis mengenai proses kejiwaan yang berhubuunagn dengan kehidupan
bersama. Pembaca kiranya sadar terhadap lingkungan sosial sehingga mampu
merubah sifat dan sikap sosialnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. 2002. Psikologi Sosial, Edisi Revisi. Jakarta:
Penerbit Rineka Cipta.
Baron, R.A., &
Byrne, D. 2004. Social Psychology. New
Delhi: Pearson Education.
Cooper, C.L., dkk.
1996. Handbook of Work and Health
Psychology. Chichester: John Wiley and Sons.
Hanurawan, Fattah,
et.al. 2005. Psikologi Sosial: Terapan
dan Masalah-masalah Sosial. Yogyakarta: UAD Pres.
McDoufall, W. 1908. An Introduction to Social Psychology. Buston:
Luce.
Ross, E.A. 1908. Social Psychology: An Outline and Source
Book. New York: Macmillan.
Sadava, S.W., &
McCreary, D.R. 1997. Applied Social
Psychology. Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.
Sarwono, S.W. 1991. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan
Bintang.
Sarwono, S.W. 1997. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori
Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Sears, D.O., dkk. 1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
Shaw, M.E., & Costanzo, P.R.
1970. Theories of Social Psychology.
New York: McGraw-Hill
Stephan, C.W., &
Stephan, W.G. 1990. Two Social
Psychologies (2nd ed). Belmont, CA: Wadsworth.
Ummah, Hairul. 2014.
Pengertian Psikologi Sosial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar