BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sigmund
Freud adalah seorang tokoh psikologi ternama, yang pertama kali mengembangkan
teori psikoanalisis. Teori psikoanalis adalah adalah salah satu teori
kepribadian yang paling berpengaruh, tetapi juga pada ilmu-ilmu lain, termasuk
antropologi dan sosiologi. Bahkan implementasinya dapat ditemui dalam berbagai
praktik kehidupan, seperti manajemen dan iklan.
Psikoanalisis
memerlukan interaksi verbal yang cukup lama dengan pasien, untuk menggali
kehidupan pribadinya yang paling dalam. Pengalamannya menangani para pasien
banyak memberikan inpirasi kepada Freud untuk menyusun teori kepribadiannya.
Pengembangan teorinya, didukung juga oleh penelaahan terhadap konflik-konflik
dan kecemasan-kecemasan yang dialaminya sendiri.
Dalam
penulisan makalah ini, penulis menuliskan biografi singkat Sigmund Freud agar
pembaca mengetahui latar belakang pemikiran Freud, faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi pemikirannya. Selanjutanya penulis mengemukakan teori pemikirannya
yang akan dibahas dan dianalisis yaitu: Insting, Tingkatan Kepribadian,
Struktur kepribadian, Kecemasan, dan perkembangan Kepribadian.
B.
Rumusan Masalah
1. Siapa Sigmund Freud?
2. Apa itu teori Freudian?
C.
Tujuan Pembahasan
1. Untuk menjelaskan tentang siapa
Sigmund Freud itu
2. Untuk menjelaskan apa itu teori
Freudian
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Sigmund Freud
Sigmund Freud dilahirkan 6 Mei 1856
di sebuah kota kecil, Freiberg Moravia. Ayahnya adalah seorang pedagang wol
yang mempunyai pikiran yang tajam dan memiliki selera humor yang baik. Ibunya adalah seorang wanita lincah dan
merupakan istri kedua, yang usianya 21 tahun lebih muda daripada suaminya. Ia
adalah putra sulung dari istri kedua ayahnya, yang melahirkan lima anak
perempuan dan dua anak laki-laki. Lalu Richard Nelson-Jones mengutip pendapat
Jones menulis tentang kebanggaan dan cinta ibu Freud kepada putra sulungnya itu
dan juga menyebutkan bahwa pada usia antara dua dan dua setengah tahun, libido
Freud terhadap ibunya bangkit saat ia melihat ibunya telanjang. Freud dalam
bukunya “An Autobiographical Study” mengatakan : “Orang tua saya Yahudi, dan
saya sendiri tetap seorang Yahudi”.
Ayahnya, Jakob, adalah seorang pedagang wol yang ketika Freud berumur
empat tahun, memindahkan keluarganya ke Wina. Tahun-tahun awal Freud di Wina
sangat berat, dan selama masa pertumbuhannya, keluarganya tampak dalam keadaan kekurangan uang.
Ketika berumur sembilan tahun, Freud
masuk sekolah menengah (Sperl Gymnasium),
dia menjadi siswa terbaik di
kelasnya selama tujuh tahun, menikmati hak istimewa yang diharuskan lulus pada beberapa kali ujian. Freud adalah
seorang pekerja keras yang sangat suka
membaca dan belajar. Meninggalkan sekolah pada usia 17 tahun, ia menghadapi
pilihan karier, yang waktu itu merupakan pilihan yang harus diambil oleh
seorang Yahudi Wina, yakni bidang indrustri, bisnis, hukum atau, atau
kedokteran. Freud ingat saat itu ia tidak memiliki minat khusus pada
kedokteran, karena minatnya lebih mengarah pada masalah manusia daripada objek
alam.
Pada tahun 1873 Freud masuk
University of Vienna untuk belajar kedokteran, meskipun selama di sana minat
akademiknya lebih beragam. Pada tahun 1876 ia memulai riset pertamanya, studi
tentang struktur kelenjar kelamin belut. Walaupun dengan banyak interupsi
pendek, tidak lama setelah itu ia masuk laboratorium fisiologis Ernest Brucke
untuk bekerja di sana dalam kurun antara 1876 sampai 1882. Selama periode ini
Freud terutama memfokuskan pekerjaan yang berkaitan dengan histologi sel-sel
saraf.
Pada tahun 1882 Freud meninggalkan laboratorium
Brucke, yang pada tahun sebelumnya ia telah diangkat menjadi staf ahli disana.
Mungkin disebabkan pengaruh jatuh cinta, dan karena itu membutuhkan keuangan
yang cukup, Freud memutuskan untuk mencari uang menjadi dokter. Ia masuk Rumah Sakit Umum di Wina, di
sana ia mendapatkan pengalaman di berbagai bagian rumah sakit dan menjadi
seorang peneliti aktif di institute of Cerebral Anatomy.
Berbekal penghargaan traveling fellowship Freud pergi ke
paris, selama Oktober 1885 sampai Februari 1886, ia belajar di Salpatririere (rumah sakit untuk
penyakit-penyakit saraf yang dipimpin Charcot). Ia sangat terkesan dengan
investigasi Charcot tentang histeria, yang mengonfirmasi kebenaran fenomena
histerik, termasuk kelumpuhan histerik, termasuk kelumpuhan histerik dan
bangunan sugesti hipnotik. Pada 1886, Freud kembali ke Wina untuk menikahi
Martha Bernays dan membuka praktik pribadi sebagai sebagai spesialis penyakit saraf.
Pada awal 1880-an, Freud menjalin persahabatan
akrab dengan Joseph Breuer, seorang dokter Wina yang menonjol. Breuer bercerita
kepadanya tentang bagaimana antara 1880-1882 ia berhasil menangani seorang anak
perempuan yang memiliki gejala histeria.
Metodenya adalah dengan menghipnotis anak secara mendalam dan setelah itu
didorong mengekpresikan diri dengan mengatakan hal-hal dalam ingatan mengenai
situasi-situasi emosi yang menekannya.
Selama tahun 1890-an peralihan dari
katarsis ke psikoanalisis terjadi. Jones menulis : “ ada banyak sekali bukti
bahwa selama berpuluh-puluh tahun- kira-kira tahun 1890-an- Freud mengalami
psikoneuris yang sangat berat, namun selama tahun-tahun ketika neurisnya sedang
memuncak, -sekitar 1987-1900-itulah Freud
menghasilkan karya paling orisionalnya.
Selama periode 1887 sampai 1990
Freud menjalin pertemanan intens dengan Wilhems Fleis, seorang spesials hidung
dan tenggorokan yang dua tahun lebih muda dibanding dirinya. Fleis melihat
masalah seksual sebagai hal sentral dan mendorong Freud serta memberi izin
untuk mengembangkan teori-teorinya. Jones mencatat ketergantungan Freud pada
pendapat Fleis dan menyebutnya sebagai “publik tunggal” Freud. Jones menilai,
padahal secara intelektual Fleiss jauh lebih rendah dibanding Freud.
Dengan latar belakang seperti ini,
Freud mulai mengembangkan ide-idenya tentang dasar-dasar seksual neuris,
walaupun meninggalkan hipnotisme, tetapi masih mempertahankan praktik yang
mengharuskan pasiennya berbaring di sofa sementara ia duduk di belakang pasien.
Selama tahun1897 sampai 1899, ia menulis hasil karya utamanya, The Interpretation of dream.pada musim
panas 1889 Freud menjalani terapi psikoanalisis terhadap ketidaksadarannya
sendiri, dan analisis terhadap diri sendiri ini menghasilkan bahan untuk buku
tersebut. Freud menemukan nafsu masa kanak-kanaknya terhadap ibunya dan kecemburuannya
terhadap ayahnya, yang dianggapnya sebagai karakteristik suka menentang pada
diri manusia yang disebut Oedipus
complex. Dibutuhkan waktu delapan tahun untuk menjual 600 kopi edisi
pertama The Interpretation of Dream-nya.
Jones melihat analisis yang dilakukan Freud terhadap dirinya sendiri dengan
berkata “Akhir dari semua kerja keras dan penderitaan itu adalah fase terakhir
dan sekaligus fase final dalam evolusi kepribadian Freud. Munculah seorang
Freud yang tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya
dengan bebas dan tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya
dengan bebas dan tenang “. Namun demikian dalam biografi Fromm (1959) tidak
sebaik itu. Ia mengatakan bahwa Freud terus menunjukan ketidakpastian dan egoisme,
baik dalam kehidupan profesional maupun kehidupan pribadinya. Pada tahun 1905,
Freud mempublikasikan hasil karya utama lainnya, Tree Contribution to the Theory of Sex, yang menelusuri
perkembangan seksualitas sejak awal masa kanak-kanak.
Dalam studi autobiografisnya Freud
melihat bahwa setelah periode katarsis pendahulunya, sejarah psikoanalisis
dapat dibagi menjadi dua fase. Dari sekitar tahun 1895 sampai 1906 atau 1907 ia
bekerja sendirian, namun setelah itu kontribusi murid-murid dan kolaboratornya
semakin penting. Perkembangan historis selanjutnya menunjukan bahwa ide-ide
Freud mulai ditinggalkan pada tahap ini.
Freud memiliki kebiasan merokok
rata-rata 20 batang cerutu dan, pada tahun 1923, ia mengetahui bahwa dirinya
mengidap penyaki kanker rahang. Ia menghabiskan hidupnya 16 tahun terkahir
dalam kesakitan yang sering kali menyiksa, dan total 33 operasi sudah dilakukan
pada rahangnya. Pada gempuran Nazi menyebabkan Freud meninggalkan Austria
bersama keluarganya dan menetap di Inggris, sebuah negara yang dikaguminya,
yang dikunjungi untuk pertama kali saat ia berumur 19 tahun. Ia meninggal di
London setahun kemudian.
B.
Teori Freudian
Teori Freud ini memiliki beberapa
konsep-konsep utama yang khas dan berbeda dengan teori-teori kepribadian yang
lain. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut:
1. Insting
a. Pengertian Insting
Insting adalah elemen dasar dari
kepribadian, kekuatan yang memotivasi atau drive
yang menentukan arah dari sebuah perilaku. Dalam bahasa Jerman, insting
disebut dengan trieb, yang mungkin
dapat diterjemahkan dengan kekuatan dengan kekuatan yang mengarahkan (driving force) atau impuls. Insting
merupakan bentuk energi yang ditransformasikan dari energi fisiologis yang
menghubungkan antara kebutuhan jasmani dan
keinginan pikiran (mind’s wishes).
Insting menurut pendapat lain
merupakan kumpulan hasrat atau keinginan (whises).
Dalam kenyataan, insting hanya merefleksikan sumber-sumber kepuasan
badaniah atau kebutuhan –kebutuhan (needs).
Tujuan dari insting-insting adalah mereduksi ketegangan (tension reduction) yang dialami sebagai suatu kesenangan.
Dari kedua pendapat di atas, insting
merupakan sesuatu kekuatan yang menghasilkan hasrat seseorang untuk memenuhi
kebutuhan jasmani yang terhubung oleh keinginan dalam pikirannya untuk memenuhi
hasratnya sehingga tercapai kepuasan dalam diri seseorang. Seseorang yang sudah
lama belum makan akan muncul hasrat rasa lapar dan keinginan untuk mencari
makanan, seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.
Ada tiga istilah yang banyak
persamaannya, yaitu instink, keinginan (wish)
dan kebutuhan (need). Insting
adalah sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan
adalah perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani.
Jadi, lapar misalnya, dapat digambarkan secara psikologis sebagai keinginan
akan makanan. Keinginan itu menjadi alasan (motif)
tingkah laku : misalnya orang lapar mencari makanan.(Suryabrata, 2010)
b. Jenis-jenis Insting
Freud mengelompokan insting ke dalam
dua kategori, yaitu insting hidup dan insting mati. Insting hidup disediakan
agar individu dan spesies dapat bertahan hidup melalui cara tertentu untuk
memuaskan kebutuhan akan makanan, udara, dan seks. Insting ini berorientasi
kepada pertumbuhan perkembangan. Energi psikis yang dimanifestasikan dari
insting hidup disebut libido. Libido
dapat dilekatkan atau dimanifestasikan pada berbagai objek. Dalam konsep Freud
akan mengatakan disebut dengan cathexis. Misalnya,
jika anda memiliki teman sekamar, maka Freud akan mengatakan bahwa libido anda
di- cathexis-kan olehnya.
Suatu instink itu mempunyai emapat
macam sifat, yaitu:
·
Sumber
Yang menjadi insting yaitu kondisi jasmaniah; jadi
kebutuhan.
·
Tujuan
Adapun tujuan insting ialah menghilangkan rangsangan
kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena adanya tegangan yang
disebabkan oleh meningkatnya energi dapat ditiadakan. Misalnya : tujuan insting
lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan makanan, dengan cara
makan.
·
Objek insting
Objek insting ialah segala aktivitas yang mengantar
keinginan dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada
bendanya saja, tetapi termasuk pula
cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul karena isting itu.
·
Pendorong atau penggerak insting
Pendorong atau penggerak insting adalah kekuatan insting
itu, yang tergantung kepada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan. Misalnya:
makin lapar orang (sampai batas tertentu) penggerak insting makannya makin
besar.
Freud
mengklasfikasikan insting ke dalam dua kelompok, yaitu:
(1.) Insting hidup (life instink: eros). Insting hidup merupakan motif dasar manusia
yang mendorongnya untuk bertingkah laku secara positif atau kontruktif. Insting
ini berfungsi untuk melayani tujuan manusia agar tetap hidup dan mengembangkan
rasnya. Insting ini meliputi dorongan-dorongan jasmaniah, seperti seks, lapar,
dan haus. Insting ini juga dinyatakan atau diwujudkan dalam berbagai komponen
budaya kreatif, seperti: seni lukis, musik, kerja sama, dan cinta. Energi yang
bertanggung jawab bagiinsting hidup adalah libido.
Libido ini bersumber dari erotogenic
zones yaitu bagian-bagian tubuh yang sangat peka terhadap rangsangan
(seperti: bibir/mulut, dubur dan organ seks) yang apabila dimanipulasi dengan
cara tertentu (seperti sentuhan) akan menimbulkan perasaan nikmat
(menyenangkan). Contohnya : menete akan menimbulkan kenikmatan oral, buang
hajat menimbulkan kenikmata anal, dan pijatan akan menimbulkan kenikmatan
genital. Pada masa bayi atau anak, insting ini (seks) relatif terlepas satu
sama lainnya, sedangkan pada masa remaja cenderung melebur dalam melayani
tujuan reproduksi secara bersama.
(2.) Insting mati (death instink : thanatos). Insting ini merupakan motif dasar manusia yang
mendorongnya untuk bertingkah laku yang bersifat negatif atau destruktif. Freud
meyakini bahwa manusia dilahirkan dengan membawa dorongan mati (keadaan tak
bernyawa = inanimate state). Pendapat
ini didasarkan kepada prinsip konstansi dari
Fechner yaitu bahwa semua proses kehidupan itu cenderung kembali kepada dunia
yang anorganis. Kenyataan manusia akhirnya mati, oleh karena itu tujuan hidup
adalah mati. Hidup itu sendiri tiada lain hanya perjalanan ke arah mati. Dia
beranggapan bahwa insting ini merupakan sisi gelap dari kehidupan manusia.
Fungsinya tidak begitu jelas, oleh karena itu tidak begitu dikenal. Derivatif
dari insting ini adalah tingkah laku agresif, baik secara verbal (seperti
marah-marah dan mencemooh/ mengejek orang lain) maupun non-verbal (seperti
berkelahi, membunuh, atau bunuh diri dan memukul orang lain).
Dari
penjelasan di atas insting dibagi kepada dua jenis, yaitu yang pertama insting
hidup yang di dalamnya terdapat dorongan untuk bersikap positif dan membangun
seperti untuk mempertahankan hidup terdapat insting rasa lapar dan rasa haus
dan untuk mempertahankan dan mengembangkan rasnya terdapat keinginan sex.
Insting hidup bukan saja dalam segi jasmani saja, tapi juga dari hasil cipta
pemikiran seseorang sehingga menghasikan seni budaya contohnya, seni tari,
puisi, seni lukis, dll.
Freud
percaya bahwa dalam kehidupan ini pasti akan menemui kematian, dan Freud juga
percaya bahwa dalam sisi manusia terdapat sisi gelap. Sisi gelap manusia yang
di dalamnya terdapat insting yang kedua yaitu insting mati yang mendorong
seseorang untuk bersikap atau bertingkah laku negatif, baik dilakukan secara
verbal (ucapan) seperti marah-marah, membenci seseorang, mengejek,
menghina,dll. Ataupun secara non verbal (perbuatan/tingkah laku) seperti
memukul, berkelahi, membunuh diri atau orang lain, dll.
2. Tingkatan Kepribadian
Freud
membagi kepribadian ke dalam tiga bagian, yaitu : kesadaran (conscious), prasadar (preconscious), dan ketidaksadaran (unconscious).
(Hidayat, 2015)
a.) Kesadaran (conscious)
Kesadaran (conscious) mempunyai fungsi seperti organ indra untuk
mempersepsikan kualitas-kualitas fisik. Berbeda dengan kedua jenis
ketidaksadaran, ketidaksadaran tidak memiliki ingatan dan keadaan kesadaran
biasanya sangat sementara. Materi menjadi disadari, atau mengalir masuk ke
dalam organ indra kesadaran, dari dua arah : dua eksternal dan perangsangan di
dalam. Selain itu, fungsi bicara memungkinkan kejadian-kejadian internal
seperti sekuensi ide dan proses intelektual menjadi sesuatu yang disadari.
Kesadaran berkaitan dengan makna
dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sensasi dan pengalaman, yang membuat kita
menyadari setiap peristiwa yang kita alami. Kesadaran merupakan bagian
kehidupan mental atau lapisan jiwa individu. Kehidupan mental ini memiliki
kesadaran penuh. Melalui kesadarannya, individu mengetahui siapa dia, sedang
apa dia, sedang dimana dia,apa yang terjadi di sekitarnya, dan bagaimana dia
memperoleh yang diinginkannya. Menurut Freud, kesadaran merupakan aspek yang
sangat terbatas dalam kepribadian, karena hanya menempati porsi yang kecil dari
pemikiran, perasaan, dan ingatan yang ada berada dalam tingkat kesadaran pada
setiap waktunya. Freud menggambarkan pikiran itu seperti gunung es. Kesadaran
berada dalam porsi yang paling atas, sedangkan yang muncul di permukaan air
hanya merupakan bagian ujung dari gunung es.
b. Prasadar (preconscious)
Prasadar (preconscious) terdiri atas semua hal yang dapat dengan mudah
mempertukarkan keadaan tidak sadar dengan keadaan sadar. Jadi, prasadar
bersifat laten dan bisa menjadi sadar, sementara ketidaksadaran ditekan dan
tidak mungkin menjadi kesadaran tanpa melalui kesulitan besar. Materi mungkin
tetap berada dalam ketidaksadaran, meskipun bisa saja menemukan jalan keluar ke
kesadaran tanpa membutuhkan campur tangan psikoanalitik. Prasadar dapat
dianggap tabir di antara ketidaksadaran yang seperti dalam kasus mimpi,
disertai dengan modifikasi-modifikasi yang dibuat pada materi yang tidak
disadari melalui penyensoran.
Prasadar merupakan lapisan jiwa
dibawah kesadaran, dan berada di tengah antara sadar dan tidak sadar. Prasadar
sebagai penampungan dari ingatan-ingatan yang tidak dapat diungkap secara
cepat, dapat diingat kembali bila diusahakan. Misalnya, kita lupa seseorang yang
baru saja ditemui. Pada kesempatan lain, tiba-tiba orang tersebut. Untuk
mengingat nama orang tersebut diperlukan sedikit
konsentrasi dan asosiasi tertentu.
c. Ketidaksadaran (unconscious)
Ketidaksadaran (unconscious) adalah materi yang tidak dapat di terima kesadaran
melalui represi. Dengan kata lain, pada ketidaksadaran, sensor materi yang
memasuki kesadaran yang kuat. Objek psikoanalisis adalah bantuan yang membuat
sebagian materi ini dapat diakses oleh kesadaran, meskipun selama prosesnya kuat mungkin terbangkitkan akibat konotasi
seksual dari banyak hal yang ditekan.
Ketidaksadaran merupakan lapisan
terbesar kehidupan mental dan berada di bawah permukaan air. Di samping itu,
ketidaksadaran juga merupakan fokus utama dalam teori psikoanalisis yang berisi
insting-insting atau pengalaman tidak menyenangkan yang ditekan (repress). Meskipun tidak sepenuhnya
individu menyadari kebaradaan insting-insting tersebut, namun insting tersebut
aktif bekerja untuk memperoleh kepuasan.
Kesadaran seseorang bisa diketahui
ketika seseorang mampu menggunakan alat inderanya untuk menyadari peristiwa
yang ia alami, mengetahui siapa dirinya, sedang apa dia, sedang dimana dia, dan
bagaimana dia memperoleh apa yang diinginkannya. Ketidaksadaran adalah materi
tidak didapat diterima ketidak sadaran melaui tekanan (represi). Di antara keduanya terdapat
prasadar di bawah kesadaran. Prasadar sebagai penampungan dari ingatan-ingatan
yang tidak dapat diungkap secara cepat, dapat diingat kembali bila diusahakan.
3. Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kepribadian manusia
memiliki suatu struktur yang diri dari id (das
es), ego (das ich), dan super ego (das uber ich). Sruktur kepribadian
tersebut akan saling berinteraksi dan akan menetukan perilaku seseorang.
(Hidayat, 2015)
a.) Id
Id (dalam bahasa Jerman Jerman
disebut das es) merupakan komponen
kepribadian yang primitif dan instingtif. Id berorientasi pada prinsip
kesenangan (pleasure principle). Prinsip
ini pada dasarnya merupakan cara untuk mereduksi (menurunkan) ketegangan.
Prinsip kesenangan merujuk kepada pencapaian kepuasan segera dari dorongan
biologis. Dalam penjelasan Freud, id merupakan sumber energi psikis yang
menggerakan kegiatan psikis manusia, karena berisi insting-insting, baik
insting hidup (eros) yang menggerakan
untuk mencapai pemenuhan kebutuhan biologis (seperti makan, minum, tidur,
hubungan seks dan lain-lain) dan juga insting kematian (tanatos) yang menggerakan tingkah laku agresif. Ide bersifat
primitif dan tidak logis atau tidak rasional.
Dalam mereduksi ketegangan atau
menghilangkan kondisi yang tidak menyenangkan dan untuk memperoleh kesenangan,
id menempuh dua cara (proses), yaitu melalui refleks dan proses primer (”the primary process”). Refleks merupakan
reaksi-reaksi psikologis yang lebih rumit. Proses primer berusaha mengurangi
ketegangan dengan cara membentuk khayalan (berfantasi) tentang objek atau
aktivitas yang akan menghilangkan ketegangan tersebut. Misalnya: pada saat
lapar menghayalkan makanan; pada saat dendam menghayalkan kegiatan balas
dendam. Kehadiran objek yang diinginkan dalam bentuk maya (hayalan), sebagai
pengalaman halusinasi dinamakan “Wishfullfillment”.
Contoh yang terbaik tentang proses primer ini adalah mimpi (dream).]
b.) Ego
Ego dalam bahasa Jerman disebut das ich merupakan aspek psikologi kepribadian.
Ia menjadi eksekutif dari kepribadian. Selain itu, ia juga yang membuat
keputusan mengenai insting-insting mana yang akan dipuaskan dan bagaimana cara
memuaskannya. Ego merupakan sistem kepribadian yang rasional dan berorientasi
pada prinsip realitas (reality
principle). Ego berperan sebagai mediator antara id (keinginan untuk
mencapai kepuasan) dan kondisi lingkungan atau dunia nyata. Ego dibimbing oleh
prinsip realitas yang bertujuan untuk mencegah ketegangan sampai mendapatkan
objek yang dapat memenuhi kepuasan atau dorongan dari id.
Ego menurut Freud seperti joki
penunggang kuda yang harus menghindar dari masalah, ego harus berusaha
menjinakan dorongan id yang tak terkendali. Seperti halnya id, ego pun
mempunyai keinginan untuk memaksimalkan pencapaian kepuasan, hanya dalam
prosesnya, ego berdasarkan pada “secondary
process thinking”. Hal yang harus diperhatikan dari ego ini adalah bahwa
(1) ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan
kebutuhan id, bukan untuk mengecewakannya, (2) seluruh energi (daya) ego berasal
dari id,sehingga ego tidak terpisah dari id, (3) peran utamanya menengahi
kebutuhan id dan kebutuah lingkungan sekitar, 4) ego bertujan untuk
mempertahankan kehidupan individu dan pengembangbiakannya.
c.) Super ego
Super ego (dalam bahasa Jerman
disebut das ueber ich) merupakan
aspek sosial dari kepribadian. Berisi komponen moral dari kepribadian. Berisi
komponen moral dari kepribadian yang terkait dengan standar atau norma
masyarakat mengenai baik-buruk atau benar-salah. Super ego mulai berkembang
pada usia 3 sampai dengan 5 tahun. Pada usia ini, anak-anak memperoleh (rewards) atas kepatuhannya dan
medapatkan hukuman atas pembangkangannya. Keduanya akan mengarahkan tingkah
laku agar sesuai dengan keinginan atau ketentuan (dalam hal ini adalah orang
tuanya). Tingkah laku yang yang salah
(artinya tidak sesuai ketentuan norma) akan mendapatkan hukuman. Proses ini
akan menumbuhkan kata hati (conscience) anak,
sedangkan perintah untuk berbuat baik (tingkah laku yang sesuai dengan aturan)
akan mendapatkan hadiah (reward), mungkin
berupa pujian. Peristiwa ini akan membentuk ego ideal anak. Mekanisme
terbentuknya kata hati dan ego ideal ini disebut dengan introjeksi. Introjeksi dapat diartikan sebagai proses penerimaan
anak terhadap norma-norma dan kode moral dari orang tua.
Super ego berfungsi untuk (1)
merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif, karena
dalam perwujudannya sangat dikutuk masyarakat, (2) mendorong ego untuk
menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, dan (3)
mengejar kesempurnaan (perfection).
Id
merupakan sumber energi psikis yang menggerakan kegiatan psikis manusia, untuk
menggerakan insting-insting yang terdapat dalam manusia, baik berupa insting
hidup seperti makan, minum, seks dan lain-lain. Dan juga insting mati, baik
berupa marah, membalas dendam dll. Untuk mengurangi rasa tegangnya dengan
berusaha untuk menghayalkan tentang apa yang diinginkannya.
Semua
manusia mempunyai ego masing-masing, ego adalah sebagai mediator antara id dan dunia nyata (realitas). Dengan
ego manusia dibimbing untuk memenuhi kepuasan atau dorongan yang terdapat dalam
id.
Sedangkan
Super Ego yang di dalamnya terdapat aspek moral atau standar baik-buruk yang
terdapat pada sosial masyarakat. Super ego berfungsi untuk meredam keinginan
yang terdapat pada id yang
berorientasi pada tujuan realistik di ganti oleh tujuan moralistik, sehingga untuk memenuhi ego di sesuaikan
dengan moralitas atau norma-norma yang
terdapat di dalam masyarakat.
4. Kecemasan
a. Pengertian Kecemasan
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan yang kita rasakan pada saat cemas. Cemas
tidak sama dengan takut. Dalam konsep Freud, kecemasan merupakan bagian penting
dalam teori kepribadian dan memasukannya ke dalam dasar perkembangan perilaku
neorotik dan psikotik. Prototipe dari seluruh kecemasan adalah trauma kelahiran
yang secara khusus dijelaskan lebih lanjut oleh Otto Rank.
Freud mendefinisikan kecemasan
sebagai sebuah keadaan ketidak senangan tertentu dengan lecutan motorik di
sepanjang jalur yang pasti. Ia melihat kecemasan sebagai reaksi universal
terhadap situasi bahaya dan ego sebagai satu-satunya tempat kecemasan. Kelak
sumber kecemasan terjadi di luar kemauan ketika situasi berbahaya muncul.
Sumber kecemasan lainnya dihasilkan oleh ego ketika bahaya itu hanya berupa
ancaman dan ego merasa lemah dalam kaitannya dengan hal itu.
Dari kedua pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa Kecemasan (anxiety) adalah
perasaan yang kita rasakan pada saat cemas, atau sebuah perasaan di saat
keadaan tidak senang. Kecemasan muncul diakibatkan atas reaksi situasi bahaya
dan ego sebagai satu-satunya tempat kecemasan. (Hidayat, 2015)
b. Jenis-jenis Kecemasan
Ada tiga macam kecemasan, satu untuk
masing-masing dari ketiga ego “taskmaster”
(pemberian tugas): (Hidayat, 2015)
(1.) Kecemasan realistis
tentang bahaya dunia eksternal
Kecemasan nyata atau kecemasan
objektif, yaitu ketakutan terhadap bahaya yang terlihat dan ada yang ada dalam
dunia nyata. Misalnya, takut dengan ular, harimau, bencana alam atau gempa
bumi. Kecemasan realistis menyediakan tujuan positif, karena akan menuntun
perilaku kita untuk menghindari atau melindungi dari bahaya yang ada. Kecemasan
akan mereda apabila objek sudah tidak ada. Ketakutan objektif dapat juga berubah
menjadi ekstrim, misalnya orang yang tidak mau meninggalkan rumah karena takut
tertabrak mobil, atau orang yang tidak bisa melihat cahaya karena takut api.
Pada dasarnya, ketakutan semacam ini bersift realistis, tetapi porsi
ketakutannya melebihi kondisi normal.
(2.) Kecemasan moral tentang konflik dengan superego
Kecemasan moral, yaitu kecemasan
yang merupakan hasil dari konflik antara id dan superego. Pada intinya
kecemasan moral merupakan ketakutan seseorang terhadap conscience-nya. Pada saat tertentu, orang dimotivasi untuk
menampilkan impuls instingtif, tetapi di sisi lain, ada kode moral. Dalam
situasi ini, super ego akan membalas dengan menyebabkan perasaan bersalah atau
malu.
(3.) Kecemasan neurotik tentang konflik dengan kekuatan implus-implus yang bersifat
insting id.
Kecemasan
neurotik, yaitu bentuk kecemasan yang mengganggu kesehatan mental. Kecemasan
neurotik, yaitu bentuk kecemasan yang menggangu kesehatan mental. Kecemasan
neurotik berbasis pada masa kanak. Dalam suatu konflik antara penundaan instingtif
dan realitas, anak sering kali di hukum atas ekspresi seksual yang terlalu
terbuka atau karena memiliki dorongan agresif atau keinginan untuk menunda
impuls id tertentu yang akan menyebabkan kecemasan. Kecemasan neurotik adalah
ketakutan yang tidak disadari atas keberadaan hukuman terhadap impulsifitas
dari perilaku yang didominasi id. Ketakutan bukan merupakan insting, melainkan
hasil dari penundan insting. Konflik terjadi antara id, ego, dan dari sumber
asalnya yang memiliki basis realistis.
Kecemasan
nyata adalah sebuah ketakutan terhadap apa yang terlihat jelas dan nyata, yang
menuntut kita untuk menghindari atau melindungi dari bahaya yang ada. Kecemasan
moral terjadi karena ada konflik antara id
dan super ego, sesorang yang
ingin memenuhi kebutuhannya terbentur oleh norma-norma yang ada sehingga dia
akan merasa bersalah dan malu. Kecemasan neurotik adalah bentuk kecemasan yang
mengganggu kesehatan mental, karena terjadi konflik antara id dan ego antara
keinginan dan cara mendapatkannya tidak dapat terlaksana atau tidak terpuaskan.
5. Perkembangan Kepribadian
Freud mengembangkan teori mengenai
perkembangan kepribadian yang merujuk pada perkembangan seksual sehingga lebih
dikenal dengan perkembangan psikoseksual. Menurut Freud terdapat 5 (lima) tahapan
perkembangan psikoseksual, yaitu : (a) Tahap oral, sumber kenikmatan terdapat
di dalam sekitar mulut; (b) Tahap anal, sumber kenikmatannya berada di dubur,
(c) Tahap Phalik, sumber kenikmatan terdapat pada alat kelamin, (d) Tahap
Latensi, tahap ini adalah masa tenang secara seksual, (e) Tahap genital, tahap
ini adalah masa dimana terjadi kematangan organ repreduksi. (Hidayat, 2015)
Pendapat di atas sesuai dengan yang
akan dijelaskan secara terperinci, sesuai dengan tahap perkembangan
psikoseksual yang terdiri atas berikut ini:
a. Tahap Oral (0- 1 tahun)
Oral berasal dari kata aris, artinya mulut. Tahap oral terjadi
pada awal kehidupan manusia, yaitu 0-1 tahun. Pada tahapan ini, mulut menjadi
sumber kenikmatan erotis, karena libido didistribusikan ke daerah sekitar
mulut. Perbuatan mengisap dan menelan menjadi metode utama untuk mencapai
kepuasan. Pada tahap ini, anak akan menikmati puting ibunya dan memasukan benda
ke dalam mulutnya, seperti mengisap jempol ataupun dot.
Bulan
pertama. Freud
mengatakan “jika bayi bisa berbicara,
tanpa diragukan lagi dia akan mengakui bahwa tindakan menghisap putimg adalah
hal terpenting dalam hidupnya”. Menyusu sangat vital karena air susu
menyediakan makanan bagi bayi-dia harus terus meghisap puting ibu untuk
bertahan hidup. Namun Freud melihat juga kalau tindakan menghisap menyediakan
perasaan menyenangkan bagi bayi.
Bagian
kedua tahap oral. Kira-kira sejak usia 6 bulan, bayi mulai mengembangkan konsepsi tentang orang lain, khususnya
ibu, sebagai pribadi yang berbeda dan terpisah darinya namun dibutuhkan. Mereka
jadi cemas jika ibu meninggalkannya atau ketika mereka bertemu orang asing
tempat ibunya.
b. Tahap Anal (1-3 tahun)
Anal berasal dari kata anus, artinya ‘dubur’. Dubur menjadi
sumber kenikmatan erotis pada masa ini, karena libido didistribusikan ke daerah
anus. Pada saat anus anak penuh dengan ampas makanan, akan memerlukan
pelepasan. Peristiwa buang air besar (BAB) merupakan pencapaian kepuasan dan
menberikan rasa nikmat. Peristiwa ini disebut dengan erotik anal.
Organ kedua yang menjadi daerah
Erogen adalah anus, dan perkembangan seksual pindah dari fase oral ke fase
anal-statistik. Aspek aktif fase ini adalah impuls untuk menguasai (sadisme), dengan penguatan pada
otot-otot tubuh dan pengontrolan fungsi otot lingkar. Membran mukus erogen anus
juga memanifestasikan diri sebagai organ dengan tujuan seksual pasif .
ciri-ciri sifat yang dikaitkan dengan fase ini adalah keteraturan, penghematan,
dan ketegaran, yang secara bersama-sama
menetapkan apa yang dikenal sebagai “karakter anal”.
c. Tahap Phalik (4 – 5 tahun)
Phalik berasal dari kata phallus artinya ‘zakar’. Pada usia ini
anak mulai memperhatikan atau mulai senang memainkan alat kelaminnya sendiri,
seperti memijit-mijit. Pada tahap ini, terjadi perkembangan berbagi aspek
psikologis, terutama terkait dengan kehidupan psikososial keluarga atau
perlakuan terhadap anak. Anak mulai berprilaku “selfish” atau mementingkan diri sendiri, atau lebih berorientasi
kepada diri sendiri.
Organ ketiga yang menjadi daerah
erogen adalah kelamin. Periode perkembangan seksual yang terjadi pada organ
seksual laki-laki (falus) dan klitoris perempuan itu menjadi penting dan
dikenal sebagai fase falik (bangkitnya)
berahi, yang dimulai sekitar umur sekitar tiga tahun. Disini kenikmatan diperoleh
dari masturbasi. Selama fose falik, seksualittas masa kanak-kanak awal mencapai insentitas
tertingginya dan selama fase ini perkembangan seksual laki-laki dan perempuan
menjadi berbeda. Fase oedipus adalah bagian falik untuk kedua jenis kelamin.
d. Tahap latensi (6 - 12)
Periode yang dimulai sekitar awal
usia enam tahun, pada anak perempuan,
mungkin lebih lambat, sampai mensrtuasi dan pubertas merupakan periode latensi
seksual. Latensi itu bisa atau parsial dan, selama periode ini, berbagai
kekangan seksual berkembang. Salah satu mekanisme yang digunakan untuk
mengalihkan energi seksual disebut sublimation
(sublimasi) atau displacement (pemindahan) libido ke pencarian tujuan dan
budaya baru. Disamping itu, ketika inidividu berkembang, impuls-impuls libido
bisa memunculkan antikateksi atau reaksi-reaksi yang bertentangan
(reaformation-pembentukan-reaksi), seperti jijik, malu, dan sok moralis.
Tahap latensi berkisar antara usia 6
sampai 12 tahun (masa sekolah SD). Tahap ini merupakan masa tenang seksual, karena
segala sesuatu yang terkait dengan seks dihambat atau direspon (ditekan).
Dengan kata lain, masa ini adalah periode tertahannya dorongan-dorongan sek dan
agresif. Selama masa ini, anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi (seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah
raga, dan kegiatan-kegiatan lainnya), dan mulai menaruh perhatian untuk
berteman (bergaul dengan orang lain). Mereka belum mempunyai perhatian khusus
kepada lawan jenis (bersikap netral) sehingga dalam bermain pun anak laki-laki
sebangku dengan anak wanita, dan sebaliknya. Tahap ini dipandang sebagai masa
perluasan kontak sosial dengan oran-orang di luar keluarganya.
e. Tahap genital (12 - seterusnya)
Tahap genital, yang dimulai pada
saat menstruasi atau pubertas, melibatkan subordinasi semua sumber perasaan
seksual pada keunggulan daerah genital. Pencurahan energi libido sebelumya
mungkin masih dipertahankan, yang dimasukkan dalam aktivitas atau tindakan
pendahuluan atau tindakan atau tindakan penunjang seksual, atau ditekan atau
dialihkan dengan cara tertentu. Pubertas membawa peningkatan libido yang lebih
besar pada anak laki-laki, tetapi pada anak
perempuan ada peningkatan pada represi, terutama soal seksualitas
klitoral. Pada saat mentruasi atau pubertas, bersama mengatasi pilihan- objek
inses, tibalah saat melepaskan diri dari otoritas orangtua. Oleh karena
perkembangan seksual sebelumnya yang cukup memadai, individu sekarang siap
terlibat hubungan genital heteroseksual.
Tahap ini dimulai sekitar usia 12
tahun atau 13 tahun. Pada masa ini anak sudah masuk usia remaja. Masa ini
ditandai dengan matangnya organ repreduksi anak. Pada periode ini, insting
seksual dan agresif menjadi aktif. Anak mulai mengembangkan motif untuk
mencitai orang lain, atau mulai berkembangnya motif altruis (keinginan untuk memperhatikan kepentingan orang lain).
Motif-motif ini mendorong anak (remaja) untuk berpartisifasi aktif dalam
berbagai kegiatan, dan persiapan untuk memasuki dunia kerja, pernikahan, dan
bserkeluarga.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori Freudian memiliki pandangan
yang suram mengenai kehidupan manusia. Manusia dipandang sebagai korban dari
apa yang telah terjadi sebelumnya. Beberapa konsep utama dari teori ini adalah
insting manusia, yang terdiri dari insting hidup dan mati, struktur kepribadian
yang terdiri dari id, ego, dan super ego, tingkatan kepribadian yang terdiri
dari kesadaran, prasadar, dan ketidaksadaran, dan perkembangan kepribadian
menurut Freud terdiri dari fase oral, fase anal, fase phalik, fase laten dan
fase genital.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, D. R. 2015. Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia
Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali
Pers
Araniri, Nuruddin. 2014. Teori Kepribadaian Psikoanalisis Sigmund.
http://nurdin1983.blogspot.co.id/2014/09/teori-kepribadian-psikoanalisis-sigmund.html (Diakses pada 25 Oktober
2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar