BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
secara sepintas setiap perilaku yang
merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain dapat di sebut sebagai
perilaku agresif . perilaku suami yang tega membunuh istri dan anak-anaknya
atau perilaku massa yang merusak rumah warga sipil jelas tergolong perilaku
agresif . akan tetapi , jika ada polisi yang membuang tembakan ke atas untuk
mencegah amukan massa , apakah perbuatan itu masih tergolong agresif ?
bagaimana jika peluru polisi meminta korban jiwa ? bagaimana kalow polisi itu
menembak mati teroris yang sedang menyandra penumpang kapal terbang ?
Contoh lain , apakah dokter gigi yang mengebor
gigi anda sehingga anda kesakitan juga
agresif ? bagaimana dengan ibu yang memukuli anaknya yg bandel ? apakah kaki anda
jika terinjak di bus kota yang penuh sesak , anda marah karena menganggap yang
meng-injak kaki anda itu agresif ?apalagi kalaw anda laki-laki , sedang yang
menginjak kaki anda gadis yang cantik . apakah dia agresif ? sebaliknya , jika
di bus kosong, tiba-tiba anda didekati oleh gadis cantik yang melotot kepada
anda dan tiba-tiba pula menginjak kaki anda sambil tetap melotot kepada anda ,
apakah ini yang disebut agresif?
Ternyata , perilaku agresif itu
banyak ragamnya . yang lebih membuat rumit adalah bahwa satu perilaku yang sama
( misalnya , menginjak kaki ) dapat dianggap tidak agresif ( jika terjadi dibus
yang penuh sesak )tetapi dapat juga dianggap agresif ( jika terjadi dibus yang lengang )
dengan demikian peran kognisi sangat besar dalam menentukan apakah suatu
perbuatan dianggap agresif ( jika diberi atribusi internal ) atau tidak agresif
( dalam hal atribusi ekternal ) dengan atribusi internal yang dimaksud adlah
niat , intense , motif , atau kesegajaan untuk menyakiti atau merugikan orang lain
. dalam atribusi ekternal , perbuatan dilakukan karena desakan situasi , tidak
ada pilihan lain atau tidak sengaja ( dokter gigi misalnya , tidak mempunyai
pilihan lain dari mengebor gigi anda untuk mengobati gigi anda ).
Dengan demikian , Apa yang dimaksud dengan agresi ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
AGRESI
Istilah agresi seringkali di sama artikan dengan agresif.
Agresif adalah merupakan kata sifat dari
agresi. Istilah agresif seringkali digunakan secara luas untuk menerangkan
sejumlah besar tingkah laku yang memiliki dasar motivasional yang berbeda-beda
dan sama sekali tidak mempresentasikan agresif atau tidak dapat disebut
agresif dalam pengertian yang sesungguhnya. Dengan penggunaan istilah agresif
yang simpang siur atau tidak konsisten, penguraian tingkah laku khususnya
tingkah laku yang termasuk ke dalam kategori agresif menjadi kabur, dan
karenanya menjadi sulit untuk memahami apa dan bagaimana sesungguhnya yang
disebut tingkah laku agresif atau agresi itu (Koeswara,1988).
Agresif menurut Baron (dalam Koeswara,1998) adalah tingkah laku
yang dijalankan oleh individu dengan tujuan melukai atau mencelakakan individu
lain. Myers (dalam Adriani,1985) mengatakan tingkah laku agresif adalah tingkah
laku fisik atau verbal untuk melukai orang lain. Menurut Dollar dan Miler
(dalam
Sarwono, 1988) Agresi merupakan pelampiasan dari perasaan
frustasi. Menurut Berkowitz (1987), agresi merupakan suatu bentuk perilaku yang
mempunyai niat tertentu untuk melukai secara fisik atau psikologis pada diri
orang lain. Murray (dalam Hall dan Lindzey,1981) mengatakan bahwa agresi adalah
suatu cara untuk mengatasi perlawanan dengan kuat atau menghukum orang lain.
Menurut Aronson (dalam Koeswara,1988) agresi adalah tingkah laku
yang dijalankan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu
lain dengan atau tanpa tujuan tertentu.
Murray dan Fine (dalam Sarwono, 1988) mendefinisikan agresi sebagai
tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap induvidu
lain atau terhadap objek-objek.
Menurut Atkinson dkk (1981)
agresi adalah tingkah laku yang diharapkan untuk merugikan orang lain, perilaku
yang dimaksud untuk melukai orang lain (baik secara fisik atau verbal) atau merusak
harta benda.
Berbagai perumusan agresi
yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
tingkah laku agresi merupakan tingkah laku pelampiasan dari perasaan frustasi untuk mengatasi perlawanan dengan kuat atau menghukum orang lain, yang ditujukan untuk melukai pihak lain secara fisik maupun psikologis pada orang lain yang dapat dilakukan secara fisik maupun verbal.
B.
JENIS-JENIS
AGRESI
Karena agresi banyak macamnya ,
sementara dampaknya dapat sangat serius pda korban , kita perlu membedakan
berbagai jenis agresi sehingga kita dapat membedakan perilaku agresif mana yang
merugikan , mana yang kurang merugikan dan bahkan yang justru diperlupakan
dalam masyarakat , jadi agresi tidak selalu berdampak negatif .
Secara
umum Myers (1996) membagi agresi dalam dua jenis yaitu :
1.
Agresi
rasa benci atau agresi emosi ( hostile aggression )
Ungkapan
kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi . perilaku dalam jenis agresi
ini adlah tujuan dr agresi itu sendiri , jadi , agresi jenis ini disebut juga
dengan agresi panas . akibat dr agresi jenis ini tidak dipikirkan oleh pelaku
dan pelaku memang tidak peduli jika akibat perbuatannya lebih bnyak menimbulkan
kerugian dari pada manfaatnya.
2.
Agresi
sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain ( instrumental aggression )
Pada
umumnya tidak disertai dengan emosi . bahkan , antara pelaku dan korban
kadang-kadang tidak ada hubungan pribadi . agresi disini adlah merupakan sarana
untuk mencapai tujuan lain . serdadu membunuh untuk merebut wilayah musuh
sesuai perintah komandan . teroris menyandra penumpang kapal terbang untuk
menuntut uang paksa bagi organisasinya . polisi menembak kaki tahanan yang
mencoba untuk kabur dan sebagainya .
Dengan
demikian kedua jenis agresi itu bereda karena tujuan yang mendasarinya . jenis pertama semata –mata untuk
meluapkan emosi sedangkan jenis yang kedua adalah dilakukan dengan maksud untuk
mencapai tujuan yang lain . Walaupun demikian , memang kedua jenis agresi
tidak selalu dapat dibedakan dengan tegas .
C.
TEORI-TEORI
AGRESI
Banyak ahli yang
mengemukakan teori tentang agresi. Teori agresi, menurut para ahli ada yang
berpendapat bahwa agresi adalah sebuah perilaku yang diturunkan (biologis),
agresi adalah sebuah perilaku yang di pelajari (lingkungan) ataupun perilaku
agresi karena hasil dari sebuah keputusan (kognitif). Teori agresi terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
Teori Bawaan
Teori Bawaan atau bakat ini terdiri atas teori Psikoanalisa dan teori
Biologi.
- Teori Naluri, Freud dalam teori Psikoanalisis klasiknya
mengemukakan bahwa agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Naluri
agresi atau tanatos ini merupakan pasangan dari naluri seksual atau eros.
Naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan sedangkan naluri agresi
berfungsi mempertahankan jenis. Kedua naluri tersebut berada dalam alam
ketidaksadaran, khususnya pada bagian dari kepribadian yang disebut Id
yang pada prinsipnya selalu ingin agar kemauannya dituruti (prinsip
kesenangan atau Pleasure Principle) dan terletak pada bagian lain dari
kepribadian yang dinamakan Super Ego yang mewakili norma-norma yang ada
dalam masyarakat dan Ego yang berhadapan dengan kenyataan.
- Teori Biologi, teori biologi ini menjelaskan perilaku agresi,
baik dari proses faal maupun teori genetika (illmu keturunan). Proses faal
adalah proses tertentu yang terjadi otak dan susunan saraf pusat. Menurut
tim American Psychological Association (1993), kenakalan remaja lebih
banyak terdapat pada remaja pria, karena jumlah testosteron meningkat
sejak usia 25 tahun. Produksi testosteron yang lebih besar ditemukan pada
remaja dan dewasa yang nakal, terlibat kejahatan, peminum, dan penyalah
guna obat dibanding pada remaja dan dewasa biasa.
Teori Lingkungan
Inti dari teori lingkungan adalah perilaku agresi merupakan reaksi terhadap
peristiwa atau stimulus yang terjadi di lingkungan.
- Teori Frustrasi-Agresi Klasik,
yaitu agresi dipicu oleh frustrasi. Frustrasi artinya adalah hambatan
terhadap pencapaian suatu tujuan. Berdasarkan teori tersebut, agresi
merupakan pelampiasan dari perasaan frustrasi.
- Teori Frustrasi-Agresi Baru,
yaitu frustrasi menimbulkan kemarahan dan emosi, kondisi marah tersebut
memicu agresi. Marah timbul jika sumber frustrasi dinilai mempunyai
alternatif perilaku lain daripada yang menimbulkan frustrasi itu.
- Teori Belajar Sosial, yaitu
lebih memperhatikan faktor tarikan dari luar. Bandura menekankan kenyataan
bahwa perilaku agresi, perbuatan yang berbahaya, perbuatan yang tidak
pasti dapat dikatakan sebagai hasil bentuk dari pelajaran perilaku sosial.
Bandura menerangkan agresi dapat dipelajari dan terbentuk pada individu-
individu hanya dengan meniru atau mencontoh agresi yang dilakukan oleh
orang lain atau model yang diamatinya, walaupun hanya sepintas dan tanpa
penguatan.
Teori Kognitif
Teori kognitif ini
memusatkan proses yang terjadi pada kesadaran dalam membuat penggolongan (kategorisasi),
pemberian sifat-sifat (atribusi), penilaian, dan pembuatan keputusan.
D.
KONSEP AGRESI
Agresi mempunyai 3 perbedaan definisi, diantaranya:
1. Pendekatan
behavioristik
Agresi merupakan perilaku yang melukai
orang lain. Suatu tindakan jika didasari
atau bertujuan untuk melukai orang lain, maka bukan dikatakan sebagai agresi.
Sebab, agresi adalah suatu bentuk tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang
lain.
2.
Agresi
prososial dan antisosial
Artinya bahwa tidak semua agresi berupa
suatu tindakan yang akan berakibat buruk, akan tetapi agresi juga merupakan
suatu bentuk tindakan yang baik dan disetujui oleh norma sosial.
3.
Perilaku
agresif dan perasaan agresif
Artinya bahwa tidak semua perilaku yang
nampak pada diri seseorang merupakan cerminan dari isi hati. Perasaan marah
dalam diri seseorang sekalipun tidak terlampiaskan dalam bentuk tindakan
termasuk dalam perasaan agresi.
E.
MACAM-MACAM
AGRESI
Berikut ini adalah beberapa macam-macam
agresi, antara lain:
1. Agresi emosi,
merupakan ungkapan kemarahan dan ditandai oleh emosi yang tinggi. Agresi emosi
ini bisa mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Tujuan dari agresi ini adalah
untuk melampiaskan emosi yang bergejolak dalam diri seseorang dan dapat
berakibat sangat fatal, apabila emosinya tidak terkendali.
2. Agresi
instrumental, agresi instrumental adalah suatu tindakan agresi yang tidak
disertai emosi.
3. Perilaku
melukai dan maksud melukai, hal ini dapat dikatakan jenis agresi karena agresi
merupakan suatu tindakan yang melukai dan memang bermaksud untuk melukai.
4. Perilaku
agresif antisosial dan prososial, suatu perilaku agresif yang sesuai dengan
norma sosial dan suatu perilaku yang tidak semudah dengan membalikkan telapak
tangan.
5. Perilaku dan
perasaan agresif, suatu perilaku agresif dapat dilihat dari perilaku yang
nampak dan juga pada perilaku yang tersembunyi.
F.
Bentuk Agresi
|
Bentuk Agresi
|
Contoh
|
|
Fisik, aktif, langsung
|
Menikam, memukul, atau menembak orang lain
|
|
Fisik, aktif, tak langsung
|
Membuat perangkap untuk orang lain, menyewa seorang
pembunuh untuk membunuh.
|
|
Fisik, pasif, langsung
|
Secara fisik mencegah orang lain memperoleh tujuan
atau tindakan yang diinginkan (seperti aksi duduk dalam demonstrasi)
|
|
Fisik, pasif, tak langsung
|
Menolak melakukan tugas-tugas yang seharusnya
|
|
Verbal, aktif, langsung
|
Menghina orang lain
|
|
Verbal, aktif, tak langsung
|
Menyebarkan gossip atau rumor jahat tentang orang
lain
|
|
Verbal, pasif, langsung
|
Menolak berbicara kepada orang lain, menolak
menjawab pertanyaan, dll
|
|
Verbal, pasif, tak langsung
|
Tidak mau membuat komentar verbal (misal:menolak
berbicara ke orang yang menyerang dirinya bila dia dikritik secara tidak
fair)
|
G.
PENYEBAB
PERILAKU AGRESI
1.
Frustrasi
Frustrasi adalah terhalangnya seseorang oleh sesuatu
hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau
tindakan tertentu. Teori hipotesis frustrasi-agresi dipelopori oleh lima orang
ahli yaitu Dollard, Doob, Miller, Mowrer, dan Sears pada tahun 1939. Pada
mulanya mereka menyatakan bahwa dalam setiap frustrasi selalu menimbulkan
perilaku agresi.Pada tahun 1941, Miller
menyatakan bahwa frustrasi menimbulkan sejumlah respon yang berbeda dan tidak
selalu menimbulkan perilaku agresi, perilaku agresi hanya salah satu bentuk
respon yang muncul.Watson, Kulik dan Brown (dalam Soedardjo dan Helmi)
menyatakan bahwa frustrasi yang muncul akibat faktor luar menimbulkan perilaku
agresi yang lebih besar dibandingkan dengan halangan yang disebabkan diri
sendiri. Hasil penelitian Burnstein dan Worchel menyatakan bahwa frustasi yang
menetap akan mendorong perilaku agresi. Dalam hal ini, orang siap melakukan
perilaku agresi karena orang menahan ekspresi agresi. Frustasi yang disebabkan
situasi yang tidak menentu (uncertaint) akan memicu perilaku agresi lebih besar dibandingkan
dengan frustasi karena situasi yang menentu.
2. Faktor Biologis
Beberapa faktor biologis yang bisa mempengaruhi
perilaku agresi adalah gen, aktivitas otak, hormon, dan abnormalitas.
Penelitian menunjukkan bahwa gen berpengaruh pada pembentukan sistem neural
otak yang mengatur perilaku agresi. Menurut perspektif biologis,
perilaku agresi disebabkan oleh meningkatnya hormon testosteron, 17-estradiol
dan estrone. Peningkatan
hormon testosteron saja ternyata tidak mampu memunculkan perilaku agresi secara
langsung. Hormon
testosteron dalam hal ini bertindak
sebagai anteseden, sehingga perlu ada pemicu dari luar. Hasil penelitian mengenai peningkatan hormon
testosteron terhadap meningkatnya perilaku agresi ini tidak konsisten. Pada anak laki-laki memang meningkat perilaku
agresinya, hal ini tidak ditemukan pada anak perempuan.
3. Kesenjangan Generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap)
antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk kegagalan
hubungan komunikasi. Hal ini
diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak.
4. Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan seperti kemiskinan,
anonimitas dan suhu udara yang terlalu panas juga berperan dalam pembentukan
perilaku agresi. Bila seorang
anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara
alami mengalami penguatan.
5. Proses Pendisiplinan yang Keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan
yang keras terutama yang dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat
menimbulkan berbagai pengaruh buruk bagi remaja. Pendidikan disiplin seperti
itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain,
dan membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif
dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang
lain.
6. Insting
Menurut Sigmund Freud, setiap orang mempunyai insting
bawaan untuk berperilaku agresi. Agresi merupakan derivasi insting mati (thanatos)
yang harus disalurkan untuk menyeimbangkannya dengan insting hidup (eros).
Eros dan thanatos ini harus diseimbangkan untuk menstabilkan mental.
7. Penilaian Kognitif
Teori ini menjelaskan bahwa reaksi individu terhadap
stimulus agresi sangat bergantung pada cara stimulus itu diinterpretasi oleh
individu. Sebagai contoh, frustrasi dapat menyebabkan timbulnya perilaku agresi
jika frustrasi itu diinterpretasi oleh individu sebagai gangguan terhadap
aktivitas yang ingin dicapainya.
8. Kompetisi Sosial
Menurut perspektif sosiobiologi, perilaku agresi
berkembang karena adanya kompetisi sosial yaitu kompetisi terhadap sumber daya. Dalam hal ini satu macam sumber daya yang dipandang
terbatas, diperebutkan oleh dua belah pihak. Perilaku agresi menurut perspektif ini merupakan
sesuatu yang fundamental karena merupakan strategi adaptasi dalam kehidupannya. Dalam pandangan ini manusia diharapkan bertindak
agresif ketika sumber daya yang penting itu terbatas, ketika mengalami
ketidaknyamanan, ketika sistem sosial tidak berjalan dengan baik, dan ketika
ada ancaman dari pihak luar. Hal ini
dilakukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
H.
Mengurangi
Perilaku Agresif
Sears menyatakan bahwa perilaku agresif dapat dikurangi melalui beberapa
hal sebagai berikut:
1. Hukuman dan
pembalasan, suatu hukuman atau pembalasan atas perbuatan agresif yang telah
dilakukan orang lain itu dapat mengurangi perilaku agresif pada seseorang.
Dengan adanya hukuman dan pembalasan, maka secara tidak langsung orang akan merasa
takut untuk melakukan perilaku agresif.
2. Mengurangi
frustasi, frustasi merupakan suatu perilaku dimana seseorang sudah merasa tidak
mampu untuk melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Frustasi yang dialami oleh seseorang dapat menimbulkan perilaku agresi. Orang
yang frustasi maka akan mudah sekali marah, sehingga ia akan mudah sekali
melakukan agresi terhadap orang lain di sekitar mereka dan bisa melukai orang
lain di sekitarnya. Maka, kejadian frustasi yang dialami oleh seseorang perlu
dikurangi agar perilaku agresi juga dapat berkurang intensitasnya.
3. Hambatan yang
dipelajari, belajar mengendalikan perilaku agresif pada diri endiri, bukan
karena takut untuk dihukum atau karena ancaman. Seseorang harus mampu memilah
perilaku agresi yang akan dikeluarkan atau yang akan ditekan kemunculannya,
sesuai dengan situasi dan kondisinya.
4. Pengalihan,
pemindahan agresi pada sasaran pengganti. Maksudnya, perilkau agresi perlu
dialihkan kepada suatu hal, misalnya benda mati, agar nantinya perilaku agresi
tidak akan melukai fisik orang lain.
5. Katarsis, jika
seseorang merasa marah dan ingin melampiaskannya maka tindakan yang dilakukan
selanjutnya akan mengurangi intensitas perasaannya.
BAB III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Tingkah laku agresi merupakan tingkah laku pelampiasan dari
perasaan frustasi untuk mengatasi perlawanan dengan kuat atau menghukum orang
lain, yang ditujukan untuk melukai pihak lain secara fisik maupun psikologis
pada orang lain yang dapat dilakukan secara fisik maupun verbal.
Menurut Myers (1996) jenis agresi ada 2 macam yaitu :
1. agresi rasa benci atau emosi ( hostile aggression )
2. agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lain (
instrumentaL aggression )
Teori-teori agresi :
1. Teori bawaan :- teori naluri
-
teori biologi
2. Teori Lingkungan : - teori frustasi agresi klasik
- teori
frustasi agresi baru
- teori
belajar sosial
3. Teori kognisi
Pengaruh terhadap agresi antara lain
:
1.
Frustrasi
2. Faktor Biologis
3. Kesenjangan Generasi
4. Lingkungan
5. Proses Pendisiplinan yang Keliru
6. Insting
7. Penilaian Kognitif
8. Kompetisi Sosial
Cara mengurangi agresi antara lain :
1. Hukuman dan
pembalasan,
2. Mengurangi
frustasi,
3. Hambatan yang
dipelajari,
4. Pengalihan,
5. Katarsis.
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyo.
2006. Psikologi Sosial. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
http://zakirputrasadani.wordpress.com/2012/01/17/psikologi-sosial-terhadap-perilaku-agresi/n (diunduh pada tanggal 19 November 2012 pukul 09.30 WIB)
http://www.psychologymania.com/2012/06/teori-teori-agresi.html (diunduh pada tanggal 24 November 2012 pukul 14.30
WIB)
Sarwono,
sarlito wirawan. Psikologi social
individu dan teori-teori psikologi social . Jakarta : Balai pustaka, 2002 .
Feist Jess
& J Gregory .Teori kepribadian.
Jakarta:Salemba humanika.2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar